Selasa, 25 Mei 2021

 

Foto: tempo.co


Siapa kau?

Seorang diri terperangkap

di hamparan ladang yang pecah

bimbang hendak memanen bayang-bayang moyangmu

yang renta

 

Siapa kau?

Napasmu retak dalam situs kemarau

siangmu membuncah

gambar-gambar pelangi tanah

 

Burung-burung hinggap di tubuhnya

meminum keringatnya sendiri

tak bisa lagi kau titipkan arah

menuju pelaminan buah

 

Siapa kau?

Dari kemarin duduk melafalkan mantra

tapi mendung tak pernah lindap di lidahmu

kau hanya mampu mengunyah malam

lalu, memuntahkan cahaya bulan

pada kanvas musim

menjelma lukisan serupa pohon-pohon dari jantung hujan

 

Siapa kau?  

Dari kemarin ibu-ibu protes

mengawetkan lapar di atas ponapi

di depan api, anak-anak menagih janji peri

mendongengkan romansa palawija

hingga dilelap mimpi

 

Keesokan harinya petir meranggas di tubuhmu

retak bersama lekuk garis-garis tanah.

                                                                        (Batubulan, 25 Mei 2020)

Puisi ini masuk nominasi Lomba Menulis Puisi Tingkat Umum (Penyelenggara Penerbit Kertasentuh) dan dibukukan dalam antologi puisi nasional yang berjudul "Nayanika"

0 komentar:

Posting Komentar