Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Mei 2023

 


Sumber foto: http://verapraraous.blogspot.com/2012/09/mawar-merah.html

Aku baru saja pindah ke rumah tua. Rumah yang halaman depannya dipenuhi rumput ilalang. Di sela-selanya, juga tumbuh rambatan bunga liar. Beberapa rambatan bunga itu menyelinap masuk pada kaca-kaca rumah yang berdebu. “Sungguh rumah yang tidak terawat,” pikirku.

Aku mencoba melangkah masuk lebih dalam, melewati beberapa ruangan dan berfokus pada pintu belakang. Aku berhenti sejenak dan memegang gagang pintu itu. Aku membukanya perlaha-lahan dan sontak perasaanku dipenuhi rasa kagum. Aku melihat taman yang dihiasi berbagai spesies bunga mawar.

Indah menghiasi indra penglihatanku. Harum bunga-bunga itu seolah membelai emosiku. Taman yang cukup luas. Terdapat gazebo kecil di kelilingi bunga mawar. Rumput rumput juga menambah kesan hijau. Sangat memanjakan mata. Sebenarnya, aku kurang suka mawar karena durinya tajam dan siap melukai orang yang lalai.

Tetapi entah mengapa aku merasa seperti ditarik ke tempat ini. Aku menjadi teringat dengan mitos rumah ini. Dikatakan bahwa hantu perempuan sering mewujudkan dirinya. Lebih tepatnya di taman mawar ini.

Hantu itu memakai gaun putih lusuh bersimbah darah. Di lehernya terdapat sayatan tak beraturan. Ada juga tusukan yang tepat di jantungnya. Surai hitam bergelombang ikut menambah kesan seram. Konon, ia akan datang di malam purnama. Dia akan menghantui manusia yang tinggal di rumah ini.

Namun, mitos tetaplah mitos. Hanyalah takhayul yang dipercaya, pikirku. Tak terasa waktuku terkuras habis di taman ini. Kini pikiranku kembali pada rumah itu. Kulangkahkan kakiku menuju rumah. Kemudian, melanjutkan membersihkan rumah lalu tidur.

Aku terbangun dari tidurku di tengah malam. Nyanyian merdu seolah menuntunku untuk bangun. Siapa yang bernyanyi”, tanyaku sendiri. Seketika aku tertuju pada jendela di sebelah kiriku. Rintik hujan bergema. Mendadak petir mengaum buas. Gelap dan seram. Nyanyian itu menambah ketakutanku. Dengan segenap keberanian, aku bangun dari kasurku. Kulihat keluar jendela.

Aku melihat seorang wanita. Tidak terlihat jelas karena ia membelakangiku. Bergaun putih menyentuh tanah. Bernyanyi sembari membelai bunga. Satu demi satu dibelainya. Surai hitam panjang dibasahi hujan hampir menutupi seluruh punggung wanita itu. Heran dan kaget. Itulah yang kurasakan. Nyanyian wanita itu berhenti. Dengan perlahan wanita itu membalikkan badannya.

Aku membelalakkan mataku. Suaraku seakan dibungkam. Wanita itu sama persis seperti di mitos. Gaun putih lusuh. Luka sayatan dileher. Tusukan yang tepat di jantung. Semua sama persis. Seluruh tubuhku bergetar. Aku baru ingat. Hari ini adalah hari purnama. Aku melihat wanita itu menyeringai. Seolah ditujukan padaku. Begitu mengerikan. Darah ada dimana-mana.

Aku mengedipkan mataku. Seketika wanita itu menghilang. Belum sempat aku menenangkan jantungku. Wanita itu muncul di depanku. Wajahnya tepat di depan wajahku. Matanya merah menyala. Berlumuran darah dan belatung di sekujur mukanya. “Darah...” Wanita itu setengah berbisik. Air mataku tak terbendung. Akhirnya, penglihatanku berubah gelap.

Aku terbangun dengan kicauan burung-burung. Rupanya sudah pagi. Aku mendapati diriku tergeletak di dekat jendela. Masih shock dengan kejadian malam itu. Aku mencoba bangun. Lalu melihat keluar jendela. Tidak ada yang berubah. Tidak ada darah. Aku merasa kebingungan. Akankah yang kulihat malam itu nyata?

Dengan segala kebingungan, aku mencoba melupakan hal itu. Aku keluar dari kamar. Menuju kamar mandi yang ada di sebelah kamarku. Berlanjut dengan membersihkan diriku. Lalu mengerjakan pekerjaan rumah. Sesekali aku melihat ke arah taman itu.

Hari yang cukup tenang. Semua berjalan lancar. Hingga malam tiba. Aku kembali terbangun oleh nyanyian. Apakah wanita itu lagi? Entahlah. Aku tak berani beranjak. Namun, malam ini bukan malam purnama. Aku terdiam, mencerna apa saja yang terjadi. Keheningan terpecah ketika ada yang mengetuk jendela kamarku.

Sangat terdengar jelas. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Air mata membasahi pipiku. Sesekali terdengar bisikan yang mengatakan “Darah...”. Aku menutupi diriku dengan selimut. Berharap pagi segera tiba. Kini aku mengakui mitos itu benar adanya. Tanpa sadar diriku tertidur.

Sang Surya telah tiba. Burung-burung berkicau. Aku terbangun dari kasurku. Aku mengambil gadget yang tergeletak di atas laci. Lalu membuka maps. Ya, aku mencari tempat orang yang mengerti dengan hal-hal gaib. Tak menunggu lama. Aku mendapati bahwa ada dukun di lingkungan sekitarku. Aku beranjak dan bersiap-siap. Mandi lalu ganti baju dan berangkat menggunakan sepeda.

Sepeda hitam pemberian almarhum ayahku dulu. Terdapat keranjang di depannya. Kadang kugunakan untuk menaruh barangku. Sepeda ini kugunakan untuk pergi sekolah. Namun, tidak sempat kugunakan. Karena untuk beberapa saat ini aku libur.

Tibalah aku di rumah dukun itu. Aku memarkirkan sepedaku di halaman rumah itu. Rumahnya sepertinya sudah sangat lama. Bahkan rumah itu masih menggunakan anyaman bambu. Ada beberapa tiang penyangga di teras rumahnya. Aku berjalan dan berhenti di pintu rumah dukun itu.

Kuketuk sopan pintu itu. Lalu tak lama pintu itu terbuka. Decitan pintu yang nyaring menampilkan kakek berpakaian ala dukun. Tanpa sepatah kata dukun itu menyuruhku masuk. Lalu ia menyuruhku duduk. “Ada apa?” kata dukun itu dengan suara yang serak dan berat. Aku menceritakan segalanya. Mulai dari nyanyian. Hingga ketukan yang kemarin malam kualami.

Dukun itu menghela napasnya. Lalu bercerita padaku. Sebenarnya, rumah itu dulu ditinggali oleh sepasang kekasih. Tetapi, mereka selalu bertengkar. Sang istri sangat menyukai bunga mawar. Hingga dibuatlah taman mawar di belakang rumah itu. Dan dibuat juga gazebo kecil agar sang istri bisa duduk menikmati bunga. Terkadang dia juga menyanyikan sebuah lagu.

Mereka bertengkar hampir setiap hari. Sampai sang suami berani untuk selingkuh. Hingga suatu saat, sang istri mengetahui hal itu. Tidak kuat, ia menampar sang suami. Kemarahan sang suami pun meluap. Hingga mencapai klimaks. Sang suami mengambil pisau. Lalu membunuh istrinya sendiri.

Ia menyayat leher sang istri. Menusuk jantungnya dengan pisau. Aroma mayat tersebar di seluruh ruangan. Karena takut sang suami memikirkan cara. Akhirnya, ia menyeret mayat istrinya menuju taman mawar. Darah masih mengucur keluar mewarnai gaun putih sang istri.

Jalanan yang dilalui penuh dengan darah. Mawar-mawar semua bersimbah darah. Tragedi yang sangat mengerikan. Tragedi ini juga dikenal dengan tragedi “Bunga Mawar Bersimbah Darah”. Perasaan tulus sang istri dikhianati begitu saja. Ketidakadilan. Itulah yang ia rasakan sang istri. Semua bercampur aduk. Hingga membuat arwah sang istri tak tenang.

Aku terdiam mendengar perkataan sang dukun. Emosiku bercampur. Haruskah aku takut? Haruskah aku kasihan? Aku juga tidak tahu. Namun, di pikiranku hanya satu. Cara agar bisa lepas dari semua ini. Setelah diam beberapa saat, aku membuka mulutku. Aku menanyakan hal yang sama kepada sang dukun.

Dukun itu menjawab. Ia mengatakan bahwa solusinya hanya ada satu. Aku harus mengorbankan darahku di salah satu bunga mawar. Bunga mawar itu harus berwarna putih dan kembang sempurna di malam purnama. Namun, darah yang dikorbankan tidak hanya setetes atau dua tetes. Namun, harus cukup menutupi mahkota yang kembang sempurna itu.

Aku tercengang mendengar solusi itu. Namun, aku tidak bisa mengatakan apa apa. Karena hanya itu satu-satunya cara. Dengan mental apa adanya, aku mencoba menerima semua itu. Sangat tidak masuk akal. Aku berdiri lalu mengucapkan terima kasih kepada sang dukun.

Sang dukun tersenyum. Aku pun kembali beranjak pulang. Aku ambil sepedaku yang kuparkirkan tepat di halaman. Selama perjalanan aku merasa dilema. Haruskah aku melakukan hal itu atau tidak. Rasanya ingin menangis saja.

Ketika tiba di rumah, aku langsung masuk ke dalam. Langit sudah mulai gelap. Aku menyalakan lampu lalu duduk di sofa ruang tamu. Sofa yang berwarna cream. Pikiranku kacau. Aku mencoba mendinginkan kepalaku hampir 30 menit. Kemudian, dengan segala keberanian yang kupunya, kuputuskan untuk melakukan hal itu.

Aku menyusun segala yang aku perlukan hingga gelap gulita bertahta di luar. Aku mengakhiri kegiatanku hari ini. Berlanjut dengan mandi, makan, dan tidur. Aku kembali terbangun dari tidurku di tengah malam. Sama seperti biasanya, ada nyanyian yang berasal dari taman mawar. Aku mencoba mengabaikannya. Aku menutupi diriku dengan selimut.

Pagi pun tiba. Kulalui hal seperti biasa. Melakukan pekerjaan rumah. Sesekali aku mencari dimana bunga mawar putih itu berada. Aku baru menyadari. Dari banyaknya bunga mawar di sini, hanya satu yang berwarna putih. Namun, aku tetap pada pendirianku. Mengumpulkan keberanian hingga purnama tiba.

Tak terasa hari yang ditunggu pun tiba. Aku sudah menyusun semua yang kuperlukan. Malam sudah muncul. Aku keluar dengan pisau dan senter di tanganku. Sangat gelap hanya cahaya senter yang menerangi. Dingin dan sunyi. Aku berdiri tepat di depan bunga mawar putih itu. Mawar yang kembang sempurna. Diterangi cahaya bulan. Mahkotanya cukup besar dan mengkilap.

Aku menjatuhkan senterku. Lalu mengangkat tanganku. Sebenarnya, aku sangat takut melakukan hal ini. Namun, tidak ada cara lain. Aku menyayat tanganku hingga keluar darah. Seperti kata dukun, darah itu harus menutupi semua bagian mawar. Perih dan sangat sakit. Aku menahan isak tangisku. Beberapa kali aku meringis. Akhirnya, selesai sudah ritual itu.

Ingin pingsan rasanya. Tiba-tiba kulihat mawar itu lenyap begitu saja. Aku membalikkan badan dan terkejut. Rupanya hantu itu ada di belakangku. Ia menyeringai seram. Seperti ada arti di baliknya. Ia pun perlahan ikut menghilang. Selesai sudah, pikirku. Sangat lega dan tenang.

Aku kembali masuk ke rumah dan mengobati lukaku. Tidak ada nyanyian. Tidak ada ketukan seperti malam biasa. Biasanya, aku akan menutupi diriku dengan selimut saat ini. Namun, sekarang sudah tidak perlu lagi. Kini aku bisa tidur tenang. Sudah tidak kuat, aku merebahkan diriku. Aku menghela napasku hingga tertidur.

Hari-hari berjalan dengan tenang dan aman. Tanpa gangguan sedikitpun. Semua berjalan seperti biasa. Tak terasa malam purnama kembali tiba. Aku bangun di tengah malam kembali. Mendengar nyanyian seorang wanita dari arah taman mawar. Aku beranjak dari kasurku dan melihat ke arah luar jendela. Sangat kaget aku dibuatnya. Wanita itu muncul kembali. “Daraaah…,” gumamnya sembari menyeringai ke arahku. (Kadek Nadya Nursyadi Suker) 

Jumat, 18 Juni 2021

 

Ada Manusia Pingin Mati

Oleh

Komang Andika Prasetya


Ilustrasi gambar: https://pixabay.com

            Ada manusia yang pingin mati. Namanya Mronges. Sejak sebulan belakangan, keinginannya untuk mati begitu kuat. Entah apa yang merasukinya? Pokoknya ia tidak ingin hidup. Ingin mati titik.

Berbagai usaha sudah ditempuhnya. Ia sudah mencoba menabrakkan dirinya di tengah keramaian lalu lalang kendaraan di kota. Namun, gagal. Kemudian, dia mencoba meloncat dari jembatan layang, tower, dan gedung pencakar langit. Hasilnya, nihil. Ia tetap selamat dan hidup.

Ia terus berdoa, memohon ketidakselamatan. Akhirnya, doanya terjawab. Sebuah gempa dahsyat melanda tempat tinggalnya. Orang-orang berlarian keluar gedung mencari titik aman. Sementara, rumah-rumah warga hancur rata.

Mronges senang. Ia berharap kejadian ini akan menghabisi hidupnya. Karena itu, ia memilih diam seorang diri di rumahnya. Sementara itu, atap, dinding, dan jendela rumahnya roboh mengubur dirinya. Sekali lagi, ia tetap saja selamat. Hanya bermandikan debu, tetapi sama sekali tidak mengalami luka.

Para warga di kampung Mronges menjadi heran dan sekaligus kebingungan. Banyak warga mengatakan bahwa Mronges merupakan orang sinting. Banyak pula yang mengatakan Mronges sedang memperdalam ilmu kebal. Sebagian lagi mengatakan Mrogres dilanda stres berat.

“Saya yakin Mronges pasti belum bisa menerima kejadian 5 tahun yang lalu,” kata Bli Kenyat sambil bergotong-royong membersihkan puing-puing bangunan bersama para warga lainnya.

“Sudah pastilah, Bli!” jawab Bli Sengap menimpali. Para warga lain hanya mengangguk-anggukan kepala, seolah-olah merasa kasihan dengan nasib yang menimpa Mrongres.

Mronges harus kehilangan tanah 1 hektar plus setengah karang rumahnya. Tanahnya sudah menjadi milik sebuah perusahaan (investor) air mineral. Padahal, Mronges tidak pernah menjual tanah itu. Tiba-tiba saja, segerombolan preman dan aparat kepolisian memasang pagar beton pembatas pada tanah yang menjadi warisan leluhurnya Mrongres.

Mronges marah. Ia hendak menghancurkan tembok pembatas itu. Namun, apa daya. Satu berbanding puluhan preman dan ratusan polisi, membuat Mrogres mati kutu. Karena itu, ia berlari menuju kantor desa, minta petunjuk kenapa tanahnya dirampas begitu saja. Pak kades mengatakan sudah sesuai dengan prosedur penjualan.

Satu-satunya cara melaporkan kepada pihak kepolisian. Mronges bersengketa dengan pihak perusahaan dalam sidang pengadilan. Hasilnya, mudah ditebak. Mrongres dinyatakan kalah. Tanah tersebut milik perusahaan air mineral.

Setelah kejadian itu, Mronges sering ngamuk-ngamuk di rumah. Kemudian, perusahaan merasa terganggu, lalu melaporkan Mronges ke kepolisian, hingga berujung pengadilan yang kedua bagi Mronges. Mronges dinyatakan bersalah dan mendekam di penjara.

Keluar dari penjara, jadilah Mronges yang sekarang. Mronges yang dikenal warga sebagai orang yang bosan hidup.

“Kenapa harus minta mati, Mrongres?” tanya Bli Kenyat

“Aku ingin cepat ketemu Tuhan,” jawab Mronges singkat.

“Kenapa harus ketemu Tuhan?” ujar Bli Sengap menimpali.

“Aku pingin keadilan. Hanya Tuhan yang maha adil,” Mronges menjawab dengan pandangan kosong ke arah tanah, yang kini bukan jadi miliknya lagi.

            Orang-orang menjadi paham tentang kondisi Mrongres. Satu sisi, orang kasihan melihat tingkah laku Mrongres. Namun di sisi lain, para warga juga jengkel dengan kelakukan Mronges, karena dianggap memberikan inspirasi kepada warga lain untuk bunuh diri.

            “Kita harus usir Mrongres dari kampung, sebelum orang-orang di kampung kita terinspirasi untuk bunuh diri.” Begitulah, hasil rapat para warga. Kelian Adat, Kelian Dusun, dan Kepala Desa sangat setuju. Maka, dibantu oleh perusahaan air mineral, Mronges ditangkap paksa. Ia dibawa ke sebuah hutan lebat oleh orang-orang bercadar.

            Kampung Mronges menjadi aman. Tidak ada lagi teror-teror bunuh diri. Setahun pasca kejadian itu, perusahaan air mineral kembali melebarkan cabang perusahaan di kampung Mrongres. Banyak warga terkena kasus yang sama seperti Mrongres. Tanahnya tiba-tiba pindah tangan menjadi milik perusahaan tersebut. Warga tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali ngamuk-ngamuk, kemudian berujung pada penjara. Akhirnya, mereka juga ikut-ikutan ingin mati.

           Semakin hari, jumlah warga yang pingin mati kian bertambah. Perusahaan semakin terganggu. Pasalnya, orang-orang ingin mati itu berlompatan di atas tembok-tembok pembatas perusahan yang berisi kawat berduri. Mereka berharap ketajaman kawat berduri itu dapat melukai mereka, lalu menyebabkan pendarahan hebat dan mati. Atau jatuh dari tembok-tombok raksasa itu, kemudian tergeletak tak bergerak di atas tanah.

            Nyatanya, tidak. Mereka tetap hidup. Bahkan, semenjak kedatangan Mrongres ke kampung halaman, tembok-tembok raksasa milik perusahaan menjadi tren bunuh diri. Di bawah komando Mronges, orang senasib dengan dirinya, sangat senang membenturkan diri ke tembok, melompat dari atas tembok, dan menancapkan tubuhnya pada kawat berduri tajam. Namun, tak satu pun yang mengalami terluka apalagi mati.

            Pihak perusahaan menjadi jengkel. Mereka menambah jumlah satpam untuk menjaga tembok perbatasan. Mereka menyewa beberapa preman dan termasuk polisi. Semuanya dilengkapi dengan persenjataan yang canggih dan lengkap. Hal ini untuk menjaga-jaga, jika sewaktu-waktu barisan yang ingin mati itu menerobos masuk ke areal perusahaan.

            Kekhawatiran perusahaan terbukti. Mronges dan kawan-kawan tetap saja menjadikan tembok perbatasan itu sebagai teror bunuh diri. Akibatnya, kesabaran pihak perusahaan habis. Mereka memerintahkan satpam, preman, dan polisi sewaan untuk menembak siapa saja yang bermain-main di tembok perbatasan.

            “Bubar…bubar…bubar! Kalian tidak boleh menyentuh tembok itu lagi,” ujar seorang komando berpakaian lengkap kepolisian.

            “Kalau nekad, maka terpaksa kalian akan kami tembak mati sekarang,” ujar yang lainnya. Pasukan sewaan perusahaan itu tampak gagah dan perkasa, lengkap dengan senjata laras panjang.

            “Apa? Mati?” sahut Mrongres.

            “Horeee…Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Tuhan,” ujar teman-teman Mrongres kegirangan.

            “Ayo, tembak kami sekarang juga! Kami sudah lama merindukan mati!” tantang Mrongres dan kawan-kawan.

            Tanpa menunggu komando, pasukan perusahaan air mineral itu menembakan berkali-kali peluru dalam senjata laras panjang ke arah Mrongres dan kawan-kawan. Mulai dari kaki, badan, hingga kepala. Namun, tak satu pun yang mati. Pasukan sewaan itu tak patah semangat. Mereka terus melesatkan peluru, tetapi tak ada  yang menembus tubuh Mronges dan kawan-kawan. Ketakutan muncul di pihak pasukan perusahaan. Sementara Mronges dan kawan-kawan malah makin senang melompat dari tembok, lalu mendekatkan diri dengan corong laras panjang itu.    

            “Door…doorrr…dooorrrrr!” suara laras panjang bersahutan tak henti-hentinya. Mrongres dkk tetap saja menerobos maju, seperti film India. Bahkan, tak terasa sudah memasuki areal perusahaan. Sementara pasukan perusahaan, kian bergerak mundur.

            “Stooop!” Seorang pria tiba-tiba muncul dalam hujan peluru itu. Pria paruh baya, tinggi tegap, pakaian necis, dan berwibawa.

            “Siapa kamu?” tanya Mrongres

Laki-laki itu hanya terdiam.

“Dia pasti Tuhan. Horeee….Berarti kita sudah mati,” teriak kawan-kawan Mrongres serentak.

“Ya, kita sudah mati. Saatnya kita minta keadilan pada dia,” sambung kawan-kawan Mronges yang lainnya.

Laki-laki itu tetap diam seribu bahasa. Ia pandangi Mrongres dkk. satu per satu. Sejam kemudian, ia pun angkat bicara.

“Bukan. Aku bukan Tuhan. Aku pemilik perusahaan ini,” sahutnya sambil memerintahkan pasukannya menembakkan peluru ke arah Mrongres dkk. Peluru kembali menghujani Mrongres dkk.

Mrongres bergerak maju, menikmati lesatan-lesatan peluru sambil membayangkan kematian. Namun, peluru-peluru itu tak sedikit pun dapat menembus kulitnya. Tubuhnya segar bugar. Cuman ia merasakan sakit yang dalam di ulu hatinya. Sakit itu seperti sakit masa lalu. Sakit ketika ia harus kehilangan tanah 1 hektar plus setengah tanah karang. (Editor, I Ketut Serawan)                   

 

 

 Ular Tangga

Oleh

Kanaka Saraswati

Foto ilustrasi: misterisejarahhin.blogspot.com

    Aku bersila di atas kasurku. Di kelilingi papan ular tangga usang, rapuh, dan hamburan dadu serta bidak yang mulai rusak. Dadu di samping papan menunjukan angka 6. Ada 4 bidak di sekelilingnya. Bidak itu berwarna merah, biru, hijau, dan kuning. Semuanya terlihat kusam.

Saat melihat papan itu, pikiranku selalu diseret ke masa lampau. Masa-masa bersama ayahku. Dulu, setiap pulang sekolah aku selalu pergi ke sawah. Membawakan makan siang untuk ayahku sambil membawa papan ular tangga. Sembari melepas letih, aku dan ayah sering bermain ular tangga.

Setiap kali bermain, ayahku selalu menyisipkan nasihat-nasihat kecil.

"Yaah… dapat angka satu," keluhku karena mendapat angka dadu yang bernilai satu.

"Jangan mengeluh seperti itu! Kita harus mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan karena rezeki yang kita dapatkan adalah nasib kita dan kehendak yang kuasa," ujar ayahku.

Itulah ayahku. Dia selalu menjadikan ular tangga sebagai cermin untuk kehidupan. Dia selalu memberikan nasihat bijak kepadaku. Karena itu, aku jadi lebih mengerti tentang kehidupan lewat ular tangga.

Seusai bermain, aku membantu ayah bekerja di sawah. Jika tidak ada pekerjaan, aku akan bermain di tepi sawah. Aku selalu bermain perahu-perahuan di selokan irigasi sawah.  

Perahu mainanku kubuat dari daun pisang. Kupotong daun pisang yang sudah agak tua. Aku memotongnya menggunakan pisau ayahku. Lalu, aku memisahkan daun itu dengan tulang daunnya. Tulang daun pisang yang sudah terpisah dari daunnya, kubagi menjadi tiga bagian lalu aku potong. Selanjutnya, aku rakit dan kusambung ketiganya dengan lidi. Bagian yang paling besar kujadikan  badan perahu dan sisanya untuk lengan di samping perahu. Perahuku pun jadi dan aku memainkannya sendiri.

Meski bentuknya tidak mirip dengan perahu sungguhan, aku tetap bermain dengan gembira. Aku membayangkan diriku sebagai nahkoda perahu itu. Hal itu karena aku memang bercita-cita menjadi seorang nahkoda kapal.

Bersama ayah, hari-hariku berlalu dengan penuh warna dan tidak membosankan. Selalu ada kejutan-kejutan nasihat dari ayah. Suatu hari, ketika bermain ular tangga dengan ayah, aku mendapatkan angka enam pada dadu. Setelah aku menjalankan bidakku, ayah menyuruhku mengocok dadu sekali lagi.

"Yeay, aku dapat enam."

"Jangan terlalu gembira. Hidup itu harus dijalani dengan tenang dan tidak berlebihan. Karena semua pasti akan merasakan susah, senang, hidup dan mati. Semua yang berlebihan itu selalu membawa penyesalan," balas ayahku.

Kata-kata singkatku menjadi bahan oleh ayah untuk memberikan nasihat kehidupan padaku. Papan ular tangga dan bidak yang berada di tempatnya hanya menjadi penonton setia saat ayahku berceramah.

"Sekarang giliranmu lagi."

"Ayah, kenapa setiap mendapat nilai enam pada dadu kita mengocok dua kali?"

"Itu karena dalam permainan ular tangga enam adalah nilai tertinggi. Jadi, jika kita mendapat enam kita bisa mengocok dadu sekali lagi."

"Tapi ayah, enam kan sudah banyak kenapa diberi kesempatan lagi? Seharusnya saat kita mendapat nilai satu kita diberi kesempatan kedua untuk mendapatkan nilai yang lebih besar," balasku.

"Jika kau mendapat nilai kecil saat ulangan di sekolah, apakah kau mendapat hadiah?"

"Tidak."

"Ular tangga juga sama. Saat kau mendapat nilai besar kau akan diberi hadiah. Hadiahnya adalah giliran tambahan," jelas ayahku.

Itulah hal yang selalu kulakukan bersama ayahku. Tapi ada satu hal yang aku herankan dari ayahku. Sebenarnya, uang ayah cukup untuk membeli papan permainan ular tangga, bahkan lebih dari cukup. Namun, ayah tidak pernah mau mengganti papan tua itu dengan yang baru.

"Saya yakin, ayah mampu membeli papan ular tangga baru. Tapi, kenapa ayah tidak mau mengganti papan ini?" tanyaku.

"Ada yang istimewa dari papan ini nak," balas ayah penuh teka-teki.

"Apa istimewanya papan tua seperti ini, Yah?"

"Kita tidak boleh memandang sesuatu dari bentuk luarnya saja. Kita harus mengetahui makna di balik itu," jelas ayah.

"Huh, ayah selalu mengalihkan pertanyaannya dengan nasihat."

"Ayah melakukan itu untukmu."

"Iya.. , aku tahu itu."

Hari menjelang senja. Aku dan ayah segera membereskan barang dan pulang ke rumah. Di perjalanan, aku masih memikirkan alasan ayah mengistimewakan papan tua itu. Kira-kira apa alasannya, ya? Aku benar-benar bingung dan penasaran.

Sampai sekarang aku tidak tahu alasannya. Kini ayahku sudah tiada. Aku tak bisa bertanya pada siapa pun.

Namun, suatu hari, saat aku pulang kerja, aku melepaskan pakaian kerjaku dengan topi nahkoda yang kukenakan. Ya, aku telah mencapai cita-citaku yang dulu kuimpikan. Sekarang, aku sudah menjadi seorang nahkoda. Hasil dari uang tabungan ayahku dulu.

Aku membuka pintu kamar ayahku dengan perlahan-lahan. Saat dibuka, pintu tua itu mengeluarkan suara. Kamar ayahku masih rapi. Aku melihat ke arah lemari tua milik ayahku. Baju di dalam lemari masih tertata rapi. Aku membuka laci di dalam lemari dan kulihat papan ular tangga yang dulu sering kumainkan dengan ayahku.

Aku mengambil papan itu. Di bawah papan tua itu kulihat sebuah foto usang. Foto itu terlihat kuno dan berwarna hitam putih. Sosok seorang pria tua bersama anak laki-laki. Aku membalikkan foto itu dan kubaca tulisan di baliknya. "Hanya ini yang bisa bapak berikan kepadamu, nak".

Aku memeluk foto itu dan meneteskan air mata. Aku berlari ke kamarku dan melompat ke kasur dengan cepat. “Aku merindukanmu, Ayah.”

Seharian aku bersedih di kamar. Tak ada seorang pun yang tahu. Aku mengusap foto itu dan mengambil sebuah bingkai kecil. Bingkai itu berwarna coklat muda keemasan. Aku membingkai foto tua itu dan memajangnya di dinding kamarku. Aku memajangnya tepat di hadapan tempat tidurku. Hari itu berlalu. Aku memejamkan mata untuk hari-hari selanjutnya.  (Editor, I Ketut Serawan)