Jumat, 18 Juni 2021

 

 Ular Tangga

Oleh

Kanaka Saraswati

Foto ilustrasi: misterisejarahhin.blogspot.com

    Aku bersila di atas kasurku. Di kelilingi papan ular tangga usang, rapuh, dan hamburan dadu serta bidak yang mulai rusak. Dadu di samping papan menunjukan angka 6. Ada 4 bidak di sekelilingnya. Bidak itu berwarna merah, biru, hijau, dan kuning. Semuanya terlihat kusam.

Saat melihat papan itu, pikiranku selalu diseret ke masa lampau. Masa-masa bersama ayahku. Dulu, setiap pulang sekolah aku selalu pergi ke sawah. Membawakan makan siang untuk ayahku sambil membawa papan ular tangga. Sembari melepas letih, aku dan ayah sering bermain ular tangga.

Setiap kali bermain, ayahku selalu menyisipkan nasihat-nasihat kecil.

"Yaah… dapat angka satu," keluhku karena mendapat angka dadu yang bernilai satu.

"Jangan mengeluh seperti itu! Kita harus mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan karena rezeki yang kita dapatkan adalah nasib kita dan kehendak yang kuasa," ujar ayahku.

Itulah ayahku. Dia selalu menjadikan ular tangga sebagai cermin untuk kehidupan. Dia selalu memberikan nasihat bijak kepadaku. Karena itu, aku jadi lebih mengerti tentang kehidupan lewat ular tangga.

Seusai bermain, aku membantu ayah bekerja di sawah. Jika tidak ada pekerjaan, aku akan bermain di tepi sawah. Aku selalu bermain perahu-perahuan di selokan irigasi sawah.  

Perahu mainanku kubuat dari daun pisang. Kupotong daun pisang yang sudah agak tua. Aku memotongnya menggunakan pisau ayahku. Lalu, aku memisahkan daun itu dengan tulang daunnya. Tulang daun pisang yang sudah terpisah dari daunnya, kubagi menjadi tiga bagian lalu aku potong. Selanjutnya, aku rakit dan kusambung ketiganya dengan lidi. Bagian yang paling besar kujadikan  badan perahu dan sisanya untuk lengan di samping perahu. Perahuku pun jadi dan aku memainkannya sendiri.

Meski bentuknya tidak mirip dengan perahu sungguhan, aku tetap bermain dengan gembira. Aku membayangkan diriku sebagai nahkoda perahu itu. Hal itu karena aku memang bercita-cita menjadi seorang nahkoda kapal.

Bersama ayah, hari-hariku berlalu dengan penuh warna dan tidak membosankan. Selalu ada kejutan-kejutan nasihat dari ayah. Suatu hari, ketika bermain ular tangga dengan ayah, aku mendapatkan angka enam pada dadu. Setelah aku menjalankan bidakku, ayah menyuruhku mengocok dadu sekali lagi.

"Yeay, aku dapat enam."

"Jangan terlalu gembira. Hidup itu harus dijalani dengan tenang dan tidak berlebihan. Karena semua pasti akan merasakan susah, senang, hidup dan mati. Semua yang berlebihan itu selalu membawa penyesalan," balas ayahku.

Kata-kata singkatku menjadi bahan oleh ayah untuk memberikan nasihat kehidupan padaku. Papan ular tangga dan bidak yang berada di tempatnya hanya menjadi penonton setia saat ayahku berceramah.

"Sekarang giliranmu lagi."

"Ayah, kenapa setiap mendapat nilai enam pada dadu kita mengocok dua kali?"

"Itu karena dalam permainan ular tangga enam adalah nilai tertinggi. Jadi, jika kita mendapat enam kita bisa mengocok dadu sekali lagi."

"Tapi ayah, enam kan sudah banyak kenapa diberi kesempatan lagi? Seharusnya saat kita mendapat nilai satu kita diberi kesempatan kedua untuk mendapatkan nilai yang lebih besar," balasku.

"Jika kau mendapat nilai kecil saat ulangan di sekolah, apakah kau mendapat hadiah?"

"Tidak."

"Ular tangga juga sama. Saat kau mendapat nilai besar kau akan diberi hadiah. Hadiahnya adalah giliran tambahan," jelas ayahku.

Itulah hal yang selalu kulakukan bersama ayahku. Tapi ada satu hal yang aku herankan dari ayahku. Sebenarnya, uang ayah cukup untuk membeli papan permainan ular tangga, bahkan lebih dari cukup. Namun, ayah tidak pernah mau mengganti papan tua itu dengan yang baru.

"Saya yakin, ayah mampu membeli papan ular tangga baru. Tapi, kenapa ayah tidak mau mengganti papan ini?" tanyaku.

"Ada yang istimewa dari papan ini nak," balas ayah penuh teka-teki.

"Apa istimewanya papan tua seperti ini, Yah?"

"Kita tidak boleh memandang sesuatu dari bentuk luarnya saja. Kita harus mengetahui makna di balik itu," jelas ayah.

"Huh, ayah selalu mengalihkan pertanyaannya dengan nasihat."

"Ayah melakukan itu untukmu."

"Iya.. , aku tahu itu."

Hari menjelang senja. Aku dan ayah segera membereskan barang dan pulang ke rumah. Di perjalanan, aku masih memikirkan alasan ayah mengistimewakan papan tua itu. Kira-kira apa alasannya, ya? Aku benar-benar bingung dan penasaran.

Sampai sekarang aku tidak tahu alasannya. Kini ayahku sudah tiada. Aku tak bisa bertanya pada siapa pun.

Namun, suatu hari, saat aku pulang kerja, aku melepaskan pakaian kerjaku dengan topi nahkoda yang kukenakan. Ya, aku telah mencapai cita-citaku yang dulu kuimpikan. Sekarang, aku sudah menjadi seorang nahkoda. Hasil dari uang tabungan ayahku dulu.

Aku membuka pintu kamar ayahku dengan perlahan-lahan. Saat dibuka, pintu tua itu mengeluarkan suara. Kamar ayahku masih rapi. Aku melihat ke arah lemari tua milik ayahku. Baju di dalam lemari masih tertata rapi. Aku membuka laci di dalam lemari dan kulihat papan ular tangga yang dulu sering kumainkan dengan ayahku.

Aku mengambil papan itu. Di bawah papan tua itu kulihat sebuah foto usang. Foto itu terlihat kuno dan berwarna hitam putih. Sosok seorang pria tua bersama anak laki-laki. Aku membalikkan foto itu dan kubaca tulisan di baliknya. "Hanya ini yang bisa bapak berikan kepadamu, nak".

Aku memeluk foto itu dan meneteskan air mata. Aku berlari ke kamarku dan melompat ke kasur dengan cepat. “Aku merindukanmu, Ayah.”

Seharian aku bersedih di kamar. Tak ada seorang pun yang tahu. Aku mengusap foto itu dan mengambil sebuah bingkai kecil. Bingkai itu berwarna coklat muda keemasan. Aku membingkai foto tua itu dan memajangnya di dinding kamarku. Aku memajangnya tepat di hadapan tempat tidurku. Hari itu berlalu. Aku memejamkan mata untuk hari-hari selanjutnya.  (Editor, I Ketut Serawan)                                                       


0 komentar:

Posting Komentar