Tampilkan postingan dengan label Histori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Histori. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Oktober 2025

 


Pembangunan tidak selalu dirasakan berdampak positif bagi setiap masyarakat. Itulah (mungkin) yang dialami oleh kelompok porter (tukang angkut) asal Nusa Penida di Pelabuhan Sanur sekarang. Semenjak Pelabuhan Sanur (modern) diresmikan per tanggal 9 November 2022, nasibnya justru menjadi ketar-ketir. Pihak otoritas pelabuhan tidak mengizinkan mereka beroperasi di lingkungan pelabuhan. Situasi ini menjadi lebih sulit—bahkan dibandingkan waktu mereka bersinggungan dengan porter milik perusahaan fastboat (FB).

Sebelumnya, kelompok porter ini pernah mengalami kondisi sulit yang hampir mengancam eksistensi mereka. Waktu itu, mereka harus berhadapan dengan porter milik perusahaan fastboat.

Kok ada porter perusahaan? Hal ini berkaitan dengan persaingan servis antara perusahaan FB. Perusahaan FB ingin menjaga kualitas servis kepada penumpang. Dari sinilah, muncul kompetisi layanan tenaga porter secara gratis dari perusahaan.

Barang-barang bawaan penumpang menjadi tanggung jawab penuh dari sang porter perusahaan. Mereka mengangkat, menjaga dan menurunkan barang para penumpang tanpa bayaran sepeser pun. Pokoknya gratis.

Kejadiannya berlangsung sekitar tahun 2016. Saat itu, perusahaan FB mulai berkembang pesat. Mereka melabuhkan FB-nya di Pelabuhan Sanur, tepatnya di area Pantai Bangsal. Area yang menjadi kawasan operasi dari kelompok porter lepas tersebut.

Eksistensi porter perusahaan ini mengakibatkan posisi kelompok porter lepas menjadi mengambang. Mereka kebingungan ketika mengambil barang penumpang yang berlabuh di Pelabuhan Sanur (Pantai Bangsal). Pasalnya, setiap FB yang berlabuh, semua barang penumpangnya diturunkan oleh porter perusahaan.

Karena kelompok porter lepas ini tidak memiliki legalitas, akhirnya jalur diplomasi pun ditempuh. Mereka bernegoisasi dengan pihak perusahaan FB. Hasilnya, kedua kelompok porter berkolaborasi dalam mengangkut barang penumpang FB. Kelompok porter lepas diberikan kesempatan membantu porter perusahaan dengan persentase setoran yang disepakati (umumnya 1:3). Keputusan ini memberikan napas panjang kepada kelompok porter lepas. Setidaknya, mereka masih bisa beroperasi meskipun dengan pendapatan yang tidak semaksimal sebelumnya.  

Meskipun dengan pendapatan 1:3, kelompok porter lepas ini dapat meraup penghasilan yang cukup per harinya. Rata-rata per orang mampu mendulang nominal sekitar Rp 200.000 per harinya.  

Penghasilan tersebut tidak lepas dari bertumbuhnya pariwisata di NP. Akses penyeberangan kian bertumbuh. Perusahaan FB bertumbuh. Persaingan transportasi laut semakin kompetitif. Frekuensi penyeberangan juga meningkat. Hal ini berdampak terhadap jumlah barang yang menyeberang ke pulau NP—dan berdampak terhadap penghasilan para porter lepas tersebut.

Situasi tersebut berlangsung dari tahun 2016 hingga 2022. Akhir tahun 2022, pelabuhan modern nan megah selesai dibangun di area Pantai Matahari Terbit, sebelah utara Pantai Bangsal. Pelabuhan yang menghabiskan dana APBN sekitar 395,3 miliar ini seperti hendak mengubur mimpi para porter lepas tersebut. Mereka tidak bisa menembus area pelabuhan modern dan tidak bisa menjalankan jobnya seperti biasa.   

Lalu, bagaimana nasib para porter lepas ini selanjutnya? Sebelum membahas lebih dalam, ada baiknya kita melihat ke belakang siapa sesungguhnya kelompok porter lepas ini?

Sekilas tentang Kelompok Porter Lepas

Kelompok porter lepas ini merupakan warisan era jukung tradisional dulu (tahun 90-an—2000-an). Perusahaan jukung tradisional dulu memang tidak menyediakan jasa tukang angkut (porter). Mereka hanya memiliki awak jukung yang terbatas. Biasanya, berkisar 2-4 orang. Satu sebagai kapten utama dan satunya lagi sebagai asisten kapten. Sisanya, sebagai tukang lempar tali manggar jukung.   

Ketika bersandar di pelabuhan Sanur, kelompok porter inilah yang melayani jasa bongkar muat barang. Mereka mengangkut barang penumpang dengan harga yang ditetapkan sepihak oleh sang porter. Mau dibayar berapa, merekalah yang menentukan sendiri.  

Namun, kadang-kadang ada penumpang pemilik barang langsung memberikan jasa angkut tanpa menanyakan ongkosnya. Situasi inilah yang sering menyebabkan tarik ulur perdebatan yang cukup serius. Seringkali ada sang porter merasa kurang puas dengan nominal diterima lalu meminta tambahan kepada sang pemilik barang. Akan tetapi, ada pula porter menerima saja meskipun dalam hati mereka merasa belum puas dengan ongkos jasa angkutnya.    

Biasanya, biaya angkutnya bervariasi. Tergantung berat-ringannya barang. Kisarannya mulai dari Rp 5.000-Rp 10.000. Jarak angkutnya tidak begitu jauh. Dari jukung dan menaruhnya di tempat aman dari sapuan ombak air laut. Selanjutnya, penumpanglah yang membawa barangnya sendiri.

Selain mengangkut barang, para porter lepas ini juga mengangkut penumpang. Mereka akan memanen rezeki ketika penumpang turun-naik jukung dalam kondisi air laut pasang. Jika penumpang memaksakan diri turun atau naik dari (dan ke) jukung, maka seluruh tubuh akan basah kuyup. Dari sinilah sang porter hadir menggendong atau menyunggi penumpang agar tidak basah ketika turun atau naik jukung. Per satu penumpang, mereka bisa meraup nominal rata-rata Rp 5.000- Rp 10.000.  

Jika ditambahkan dengan jasa angkut barang, mereka bisa membawa pulang rata-rata uang sejumlah minimal Rp 250.000 hingga Rp 500.000 per setengah hari. Pasalnya, era transportasi jukung, arus penyeberangan sangat terbatas. Keberadaan jukung terbatas. Intensitas aktivitas masyarakat NP juga terbatas.

Justru pada zaman keterbatasan itulah, kelompok porter lepas ini mendapatkan rezeki yang berlimpah. Mereka bekerja sebagai porter hanya beberapa jam. Sisanya, dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi sampingan. Kebanyakan dari mereka menyakap (sewa) lahan pertanian di wilayah Sanur. Sewa lahan ini digunakan untuk aktivitas beternak sapi, menanam jagung, menanam bunga dan lain sebagainya.  

Kelompok porter lepas ini tidak memiliki kekuatan yuridis (hukum). Mereka hanya kelompok kecil yang taat dengan wilayah kerja. Mereka ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan di area Pantai Bangsal. Mereka harus menjalankan kewajiban membersihan lingkungan area pantai setiap hari, sebelum memulai bekerja. Di samping itu, mereka juga memberikan feedback penghasilan (setoran) kepada wilayah adat setempat per bulan.  

Kelompok porter ini berasal dari kelas ekonomi dan pendidikan yang cukup rendah. Jumlah yang aktif sekarang kurang lebih 7 orang. Beberapa bahkan ada yang tidak tamat SD. Situasi ini tidak membuat mereka minder. Sebaliknya, justru membuat mereka ditempa menjadi pekerja keras. Hampir semuanya bisa mencukupi dirinya dengan sandang, pangan dan papan secara mandiri.

Nasib Pasca Pelabuhan Modern

Kedigjayaan ekonomi para porter lepas ini kian merosot seiring perkembangan zaman. Makin ke depan, tangkapan rezekinya terancam kian meredup. Bukan hanya soal rezeki, bahkan eksitensinya pun terancam tenggelam.

Keberadaan porter perusahaan FB sebetulnya hendak mengubur nasib porter lepas itu. Jika monopoli diberlakukan oleh perusahaan FB, maka tamatlah riwayat porter lepas warisan era jukung tersebut. Namun, berkat lobi dan negosiasi yang alot, kedua belah pihak akhirnya memutuskan hasil yang manusiawi.    

Sesungguhnya, porter lepas itu hanya memiliki kekuatan teritorial. Mereka memiliki kewenangan operasi angkut di sekitar Pantai Bangsal karena ada faktor keterikatan dengan pihak desa adat setempat. Mereka dikenai kewajiban membersihkan areal pantai. Selain itu, mereka juga dijaga oleh kewajiban setoran per bulan kepada pihak desa adat. Artinya, mereka punya kewenangan beroperasi atas keterikatan teritorial tersebut.

Barangkali, faktor teritorial itulah yang menyebabkan posisi porter lepas tersebut menjadi cukup kuat. Posisi inilah yang mungkin memengaruhi lobi berakhir dengan cukup memuaskan bagi kedua belak pihak. Para porter lepas diberikan kesempatan membantu porter FB dalam menangani barang-barang yang akan dinaikkan atau diturunkan dari FB. 

Atas dasar kekuatan “teritorial” dan faktor kemanusiaan, eksistensi porter lepas terselamatkan. Mereka dapat menjalani job-nya seperti biasa. Namun, totalitas pendapatan tidak sebesar era zaman jukung tradisional dulu. Bagi porter lepas, eksistensi job mungkin lebih urgen daripada menimbang pendapatan. Lebih baik masih ada pekerjaan dibandingkan sama sekali tidak bekerja.  

Namun, persoalan menjadi lebih rumit ketika pelabuhan modern sanur dibangun. Pelabuhan Sanur dibangun di areal Pantai Matahari Terbit, di luar teritorial Pantai Bangsal. Lalu, strategi apa yang digunakan oleh para porter lepas tersebut untuk menyelamatkan eksistensinya?

Sejatinya, kelompok porter lepas tersebut sudah bersiap-siap mengubur mimpi-mimpinya. Pasalnya, mereka jelas tidak bisa masuk ke Pelabuhan Sanur. Pertama, Pelabuhan Sanur dibangun di luar areal Pantai Bangsal. Kedua, Pelabuhan Sanur diprioritaskan untuk “sirkulasi” penumpang. Karena itu, setiap penumpang dianjurkan tidak membawa barang bawaan yang berlebihan.  

Berbeda dengan waktu pelabuhan FB berada di areal Pantai Bangsal. Tidak ada kebijakan tentang keterbatasan barang bawaan. Bahkan, perusahaan FB sangat terbuka menerima barang titipan yang hendak diseberangkan ke NP.

Semenjak beroperasi, Pelabuhan Sanur sangat ketat dan komitmen dengan kebijakannya. Kebijakan ini membuat masyarakat yang hendak menitip barang menjadi kelimpungan. Jika menitip ke kapal di Pelabuhan Padang Bay terlalu jauh. Di samping itu, kapasistas barang yang dititip juga tanggung (misalnya 1-2 dus barang atau 1-2 karung).

Dampak kebijakan Pelabuhan Sanur ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat umum, terutama kelompok porter lepas. Mereka pasrah dan hampir membubarkan diri. Syukurnya, ada celah underground (tercembunyi). Awak FB membuka peluang untuk memperpanjang napas para porter lepas tersebut.   

Beberapa awak FB membuka lowongan penitipan barang melalui areal Pantai Bangsal. Jadi, sebelum masuk antrian di Pelabuhan Sanur, awak FB ini bersandar untuk menaikkan barang titipan di Pelabuhan Pantai Bangsal. Beberapa ada yang menggunakan boat kecil (skoci) untuk mengambil barang titipan di Pantai Bangsal. Jasa angkut ini menggunakan tenaga porter lepas.

Untuk kedua kalinya, nasib porter lepas ini terselamatkan hingga sekarang. Mereka tetap bisa melangsungkan hidupnya dengan mengangkut khusus barang titipan dengan persentase ongkos yang telah disepakati oleh awak FB dengan porter lepas.

Setelah berjalan kurang lebih satu tahun, bayang-bayang masalah muncul lagi. Sekarang, mulai muncul boat cargo lengkap dengan jajaran porternya untuk mengakomodir jasa penitipan barang ke NP. Keberadaan boat cargo ini seolah-olah hendak monopoli per-porter-an di Pantai Bangsal.

Tentu para porter lepas tersebut sudah menyiapkan strategi atas kemungkinan hegemoni perusahaan boat cargo beserta jajaran porternya. Namun, apapun dinamikanya nanti, kita berharap kelompok porter lepas ini tetap eksis dan tetap dapat melangsungkan hidupnya seperti semula. 

Senin, 22 April 2024

 


Bantal Bleleng (Foto: The Catar Cottage)


Apa yang paling ikonik dari perayaan Nyepi di Nusa Penida (NP)? Jika ditanyakan kepada generasi NP tahun 80-an dan 90-an, maka jawabannya ialah bantal bleleng. Jajan ini seolah-olah wajib ada saat Nyepi—meskipun sudah berlimpahan pangan lainnya. Bantal bleleng dianggap penting, pelengkap dan penanda Nyepi. Sampai ada ungkapan (di kampung saya), “Tanpa bantal bleleng seperti tidak merayakan Nyepi”.

Kedengarannya dahsyat sekali. Ya, bantal bleleng memang mampu menguatkan kesadaran kolektif warga di kampung saya. Kesadaran untuk mengadakan bantal bleleng menjelang Nyepi secara berulang dan konsisten. Jadi, jangan heran jika setiap menjelang Nyepi, dapur-dapur warga bergelantungan dengan bantal bleleng.

Lalu, apa sih istimewanya bantal bleleng itu? Secara komposisi, sebetulnya mirip saja dengan bantal ketan pada umumnya. Ada parutan kelapa, kacang, dan pisang. Namun, perbedaan pokoknya ialah bahan utamanya yaitu bleleng. Bleleng adalah varietas sorgum (di Bali dikenal dengan nama jagung gimbal), satu kelas dengan tumbuhan serealia seperti padi, jagung dan gandum.

Biji bleleng mirip beras atau ketan. Akan tetapi, bentuknya lebih pendek, lebih besar, bulat dan montok. Sekilas, warnanya seperti beras merah. Tekstur bijinya lebih keras. Karena itu, dibutuhkan energi yang ekstra dalam proses pengolahannya menjadi bantal terutama saat proses penghalusan biji bleleng.

Untuk mendapatkan biji bleleng yang halus, bleleng harus ditumbuk berkali-kali di dalam lesung batu. Biji yang sudah halus direndam (kurang lebih setengah hari) agar tekstur bijinya menjadi lebih lunak.

Selanjutnya, biji bleleng ditiriskan dan dijadikan adonan bersama parutan kelapa, kacang merah khas NP, garam secukupnya (tanpa gula) dan potongan buah pisang. Adonan ini dimasukkan ke dalam kulit bantal yang terbuat dari daun kelapa lalu diikat.

Nah, menunggu proses matang juga membutuhkan waktu ekstra. Adonan harus direbus dengan api kayu bakar kurang lebih 6 jam. Rentang waktu ini mampu menghasilkan bantal bleleng yang “lepah”, beraroma khas, dan layak dikonsumsi selama kurang lebih 2 hari.

Bantal bleleng memiliki cita rasa yang berbeda. Legit, permukaan luarnya lengket seperti sagu, dalamnya sedikit gesar/ pesak (kasar) dan rasanya sedikit hambar. Namun, rasa hambar ini tidak kentara karena ditopang oleh garam, rasa kacang merah dan manis buah pisang. Komposisi bahan inilah yang membangun satu kesatuan rasa bantal bleleng, yang sangat akrab, familiar dan favorit bagi lidah generasi NP tahun 80-an dan 90-an.

Mengapa Bantal Bleleng Menjadi Ikon Nyepi?

Seberapa hebat sih rasa bantal bleleng itu sesungguhnya? Mengapa mampu menjadi pangan ikonik perayaan Nyepi era anak NP 80-an dan 90-an? Jika ngomongin soal rasa tentu sangat personal dan relatif. Namun, ketika panganan itu mampu merebut (mencuri) lidah masyarakat secara masif,  kita harus angkat tangan. Dalam artian, lidah massal itu objektif menilai bahwa rasa bantal bleleng memang enak (favorit).   

Di luar faktor rasa, bantal bleleng juga memiliki kelebihan yakni hasil bumi lokal. Biji bleleng ditanam hampir oleh semua petani di NP. Biji bleleng ditanam dengan model tumpang sari, selang-seling di antara tumbuhan palawija lainnya seperti jagung, kacang merah dan singkong.  

Di antara palawija lainnya, bleleng termasuk tumbuhan kuat dan bandel. Tumbuhan asal Afrika ini memiliki daya adaptasi yang luas, toleran terhadap kekeringan, produktivitas tinggi, dan lebih tahan terhadap hama serta penyakit. Pohon bleleng mirip dengan jagung. Pohon dengan tinggi rata-rata 2,6-4 m dilapisi lilin (putih) yang tebal pada batang dan pelepah daunnya. Bleleng memiliki morfologi yang mencakup akar, batang, daun, tunas, bunga, dan biji.  

Dengan kelebihannya itu, bleleng sangat baik dan cocok hidup di NP yang kering dan berbatu kapur. Panen bleleng hampir tak pernah gagal. Masyarakat di kampung saya tidak perlu repot-repot mendatangkan biji bleleng dari luar daerah (seperti halnya ketan atau beras). Biji bleleng ada di sekitar warga. Jadi, secara ekonomi (biaya) sangat murah meriah. Dulu, kalau tidak punya bleleng sangat mudah dikasi gratis oleh tetangga. Pokoknya, tidak sampai membeli bahan (bleleng).

Selain faktor rasa dan ekonomis, bantal bleleng menjadi favorit (ikon) bisa jadi karena proses adaptasi lidah kelompok. Karena panganan itu dekat dan selalu diadakan, cepat atau lambat lidah suatu kelompok itu akan terbiasa merasakan enaknya bantal bleleng.

Cita rasa lidah yang sama, memberikan kesempatan kepada bleleng untuk terus eksis ditanam di ladang-ladang warga. Sama halnya dengan jagung dan singkong di NP. Jagung dan singkong merupakan makanan pokok (nasi) bagi masyarakat NP. Kedua palawija ini tidak pernah absen ditanam oleh para petani di NP.

Faktor ikonik lainnya ialah bantal bleleng termasuk jajan yang mungkin paling awet pada zamannya. Zaman ketika kulkas belum merambah ke rumah-rumah warga. Mungkin satu-satunya jajan yang bisa bertahan sampai 2 harian ialah bantal bleleng.  

Jadi, kuat dugaan bahwa unsur keawetan ini menyebabkan bantal bleleng menjadi panganan favorit dan ikonik saat Nyepi. Ya, karena bantal bleleng sejalan dengan spirit (salah satu aspek) Catur Berata Penyepian yaitu tidak boleh menyalakan api. Maksudnya, selama Nyepi bantal bleleng memang tidak perlu lagi bersentuhan dengan api.  

Menyalakan api zaman tahun 80-an dan 90-an, sangat riskan bagi warga. Pasalnya, setiap warga masih menggunakan api kayu bakar. Bisa dibayangkan bukan kalau api menyala? Asapnya akan cepat meluber. Ini akan mengundang pecalang datang dan siap-siaplah terkena awig-awig denda desa adat. 

Di samping awetnya, bantal bleleng juga ramah dikonsumsi oleh segala umur baik anak-anak, remaja termasuk orang tua. Hal ini tidak lepas dari kandungan nutrisi dari biji bleleng itu sendiri. Mungkin soal kandungan ini sedikit masyarakat yang menyadarinya, karena harus dibuktikan dengan research (penelitian).

Terkait dengan kandungan, ada berbagai sumber terpercaya yang menyebutkan bahwa bleleng (sorgum) memiliki kandungan Glikemik Indeks (zat gula) yang rendah tetapi nilai karbohidratnya ekuivalen dengan beras. Jenis karbohidrat yang dikandung oleh biji bleleng yaitu pati, gula terlarut, dan serat. Kandungan gula terlarut pada bleleng (sorgum) terdiri dari sukrosa, glukosa, fruktosa dan maltosa. Selain itu, bleleng juga bebas gluten (senyawa protein).

Artinya, bleleng juga layak dijadikan makanan pokok. Namun, nyatanya bleleng tidak favorit dijadikan makanan pokok (nasi) di NP. Soal makanan pokok, nasib bleleng tidak seperti jagung dan singkong. Bleleng lebih khusus diolah menjadi jajan seperti jaja bleleng (seperti jaja kukus), bantal bleleng, dan tipat bleleng.

Namun, di antara berbagai olahan biji bleleng, batal bleleng dianggap paling favorit. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, bantal bleleng diberikan tempat khusus setiap pergantian tahun Caka. Momen yang disakralkan oleh masyarakat Bali, termasuk masyarakat NP. 

Karena itu, mengunyah bantal bleleng di hari Nyepi seperti ritual membangunkan kesadaran tubuh. Kesadaran tentang merayakan Nyepi. Kesadaran itu bertambah kuat ketika malam bertahta, sambil mendengar suara alam dan memandang langit. Dalam kondisi demikian, mengunyah bantal bleleng seperti mengunyah sepi dan damai.

Sayang, momen spiritual itu kini mengalami dinamika. Dalam 3 tahun belakangan ini, eksistensi bantal bleleng mulai oleng. Pasalnya, para petani sudah tak kuasa melawan hama burung pemakan biji bleleng. Puluhan burung perkutut, tekukur, perit, dan ratusan burung punan siap menjarah ketika pohon bleleng berbuah di ladang-ladang pak tani. 

Hama burung itu seperti tak terkendali. Akhirnya, dari 2 tahun terakhir ayah saya (termasuk petani lain) sama sekali tidak menanam biji bleleng. Artinya, besar kemungkingan Nyepi di NP pada masa mendatang tanpa bantal bleleng. Lalu, apa jadinya Nyepi tanpa bantal bleleng? Masihkan para warga menemukan esensinya di malam gelap sepi? Atau jangan-jangan esensi Nyepi akan diseret ke arah bimbang, menyimpang dan hilang terurai dalam perut-perut burung pemakan biji bleleng itu.

 

Porter lepas asal NP hendak mengangkat barang titipan


Pembangunan tidak selalu dirasakan berdampak positif bagi setiap masyarakat. Itulah (mungkin) yang dialami oleh kelompok porter (tukang angkut) asal Nusa Penida di Pelabuhan Sanur sekarang. Semenjak Pelabuhan Sanur (modern) diresmikan per tanggal 9 November 2022, nasibnya justru menjadi ketar-ketir. Pihak otoritas pelabuhan tidak mengizinkan mereka beroperasi di lingkungan pelabuhan. Situasi ini menjadi lebih sulit—bahkan dibandingkan waktu mereka bersinggungan dengan porter milik perusahaan fastboat (FB).

Sebelumnya, kelompok porter ini pernah mengalami kondisi sulit yang hampir mengancam eksistensi mereka. Waktu itu, mereka harus berhadapan dengan porter milik perusahaan fastboat.

Kok ada porter perusahaan? Hal ini berkaitan dengan persaingan servis antara perusahaan FB. Perusahaan FB ingin menjaga kualitas servis kepada penumpang. Dari sinilah, muncul kompetisi layanan tenaga porter secara gratis dari perusahaan.

Barang-barang bawaan penumpang menjadi tanggung jawab penuh dari sang porter perusahaan. Mereka mengangkat, menjaga dan menurunkan barang para penumpang tanpa bayaran sepeser pun. Pokoknya gratis.

Kejadiannya berlangsung sekitar tahun 2016. Saat itu, perusahaan FB mulai berkembang pesat. Mereka melabuhkan FB-nya di Pelabuhan Sanur, tepatnya di area Pantai Bangsal. Area yang menjadi kawasan operasi dari kelompok porter lepas tersebut.

Eksistensi porter perusahaan ini mengakibatkan posisi kelompok porter lepas menjadi mengambang. Mereka kebingungan ketika mengambil barang penumpang yang berlabuh di Pelabuhan Sanur (Pantai Bangsal). Pasalnya, setiap FB yang berlabuh, semua barang penumpangnya diturunkan oleh porter perusahaan.

Karena kelompok porter lepas ini tidak memiliki legalitas, akhirnya jalur diplomasi pun ditempuh. Mereka bernegoisasi dengan pihak perusahaan FB. Hasilnya, kedua kelompok porter berkolaborasi dalam mengangkut barang penumpang FB. Kelompok porter lepas diberikan kesempatan membantu porter perusahaan dengan persentase setoran yang disepakati (umumnya 1:3). Keputusan ini memberikan napas panjang kepada kelompok porter lepas. Setidaknya, mereka masih bisa beroperasi meskipun dengan pendapatan yang tidak semaksimal sebelumnya.  

Meskipun dengan pendapatan 1:3, kelompok porter lepas ini dapat meraup penghasilan yang cukup per harinya. Rata-rata per orang mampu mendulang nominal sekitar Rp 200.000 per harinya.  

Penghasilan tersebut tidak lepas dari bertumbuhnya pariwisata di NP. Akses penyeberangan kian bertumbuh. Perusahaan FB bertumbuh. Persaingan transportasi laut semakin kompetitif. Frekuensi penyeberangan juga meningkat. Hal ini berdampak terhadap jumlah barang yang menyeberang ke pulau NP—dan berdampak terhadap penghasilan para porter lepas tersebut.

Situasi tersebut berlangsung dari tahun 2016 hingga 2022. Akhir tahun 2022, pelabuhan modern nan megah selesai dibangun di area Pantai Matahari Terbit, sebelah utara Pantai Bangsal. Pelabuhan yang menghabiskan dana APBN sekitar 395,3 miliar ini seperti hendak mengubur mimpi para porter lepas tersebut. Mereka tidak bisa menembus area pelabuhan modern dan tidak bisa menjalankan jobnya seperti biasa.   

Lalu, bagaimana nasib para porter lepas ini selanjutnya? Sebelum membahas lebih dalam, ada baiknya kita melihat ke belakang siapa sesungguhnya kelompok porter lepas ini?

Sekilas tentang Kelompok Porter Lepas

Kelompok porter lepas ini merupakan warisan era jukung tradisional dulu (tahun 90-an—2000-an). Perusahaan jukung tradisional dulu memang tidak menyediakan jasa tukang angkut (porter). Mereka hanya memiliki awak jukung yang terbatas. Biasanya, berkisar 2-4 orang. Satu sebagai kapten utama dan satunya lagi sebagai asisten kapten. Sisanya, sebagai tukang lempar tali manggar jukung.   

Ketika bersandar di pelabuhan Sanur, kelompok porter inilah yang melayani jasa bongkar muat barang. Mereka mengangkut barang penumpang dengan harga yang ditetapkan sepihak oleh sang porter. Mau dibayar berapa, merekalah yang menentukan sendiri.  

Namun, kadang-kadang ada penumpang pemilik barang langsung memberikan jasa angkut tanpa menanyakan ongkosnya. Situasi inilah yang sering menyebabkan tarik ulur perdebatan yang cukup serius. Seringkali ada sang porter merasa kurang puas dengan nominal diterima lalu meminta tambahan kepada sang pemilik barang. Akan tetapi, ada pula porter menerima saja meskipun dalam hati mereka merasa belum puas dengan ongkos jasa angkutnya.    

Biasanya, biaya angkutnya bervariasi. Tergantung berat-ringannya barang. Kisarannya mulai dari Rp 5.000-Rp 10.000. Jarak angkutnya tidak begitu jauh. Dari jukung dan menaruhnya di tempat aman dari sapuan ombak air laut. Selanjutnya, penumpanglah yang membawa barangnya sendiri.

Selain mengangkut barang, para porter lepas ini juga mengangkut penumpang. Mereka akan memanen rezeki ketika penumpang turun-naik jukung dalam kondisi air laut pasang. Jika penumpang memaksakan diri turun atau naik dari (dan ke) jukung, maka seluruh tubuh akan basah kuyup. Dari sinilah sang porter hadir menggendong atau menyunggi penumpang agar tidak basah ketika turun atau naik jukung. Per satu penumpang, mereka bisa meraup nominal rata-rata Rp 5.000- Rp 10.000.  

Jika ditambahkan dengan jasa angkut barang, mereka bisa membawa pulang rata-rata uang sejumlah minimal Rp 250.000 hingga Rp 500.000 per setengah hari. Pasalnya, era transportasi jukung, arus penyeberangan sangat terbatas. Keberadaan jukung terbatas. Intensitas aktivitas masyarakat NP juga terbatas.

Justru pada zaman keterbatasan itulah, kelompok porter lepas ini mendapatkan rezeki yang berlimpah. Mereka bekerja sebagai porter hanya beberapa jam. Sisanya, dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi sampingan. Kebanyakan dari mereka menyakap (sewa) lahan pertanian di wilayah Sanur. Sewa lahan ini digunakan untuk aktivitas beternak sapi, menanam jagung, menanam bunga dan lain sebagainya.  

Kelompok porter lepas ini tidak memiliki kekuatan yuridis (hukum). Mereka hanya kelompok kecil yang taat dengan wilayah kerja. Mereka ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan di area Pantai Bangsal. Mereka harus menjalankan kewajiban membersihan lingkungan area pantai setiap hari, sebelum memulai bekerja. Di samping itu, mereka juga memberikan feedback penghasilan (setoran) kepada wilayah adat setempat per bulan.  

Kelompok porter ini berasal dari kelas ekonomi dan pendidikan yang cukup rendah. Jumlah yang aktif sekarang kurang lebih 7 orang. Beberapa bahkan ada yang tidak tamat SD. Situasi ini tidak membuat mereka minder. Sebaliknya, justru membuat mereka ditempa menjadi pekerja keras. Hampir semuanya bisa mencukupi dirinya dengan sandang, pangan dan papan secara mandiri.

Nasib Pasca Pelabuhan Modern

Kedigjayaan ekonomi para porter lepas ini kian merosot seiring perkembangan zaman. Makin ke depan, tangkapan rezekinya terancam kian meredup. Bukan hanya soal rezeki, bahkan eksitensinya pun terancam tenggelam.

Keberadaan porter perusahaan FB sebetulnya hendak mengubur nasib porter lepas itu. Jika monopoli diberlakukan oleh perusahaan FB, maka tamatlah riwayat porter lepas warisan era jukung tersebut. Namun, berkat lobi dan negosiasi yang alot, kedua belah pihak akhirnya memutuskan hasil yang manusiawi.    

Sesungguhnya, porter lepas itu hanya memiliki kekuatan teritorial. Mereka memiliki kewenangan operasi angkut di sekitar Pantai Bangsal karena ada faktor keterikatan dengan pihak desa adat setempat. Mereka dikenai kewajiban membersihkan areal pantai. Selain itu, mereka juga dijaga oleh kewajiban setoran per bulan kepada pihak desa adat. Artinya, mereka punya kewenangan beroperasi atas keterikatan teritorial tersebut.

Barangkali, faktor teritorial itulah yang menyebabkan posisi porter lepas tersebut menjadi cukup kuat. Posisi inilah yang mungkin memengaruhi lobi berakhir dengan cukup memuaskan bagi kedua belak pihak. Para porter lepas diberikan kesempatan membantu porter FB dalam menangani barang-barang yang akan dinaikkan atau diturunkan dari FB. 

Atas dasar kekuatan “teritorial” dan faktor kemanusiaan, eksistensi porter lepas terselamatkan. Mereka dapat menjalani job-nya seperti biasa. Namun, totalitas pendapatan tidak sebesar era zaman jukung tradisional dulu. Bagi porter lepas, eksistensi job mungkin lebih urgen daripada menimbang pendapatan. Lebih baik masih ada pekerjaan dibandingkan sama sekali tidak bekerja.  

Namun, persoalan menjadi lebih rumit ketika pelabuhan modern sanur dibangun. Pelabuhan Sanur dibangun di areal Pantai Matahari Terbit, di luar teritorial Pantai Bangsal. Lalu, strategi apa yang digunakan oleh para porter lepas tersebut untuk menyelamatkan eksistensinya?

Sejatinya, kelompok porter lepas tersebut sudah bersiap-siap mengubur mimpi-mimpinya. Pasalnya, mereka jelas tidak bisa masuk ke Pelabuhan Sanur. Pertama, Pelabuhan Sanur dibangun di luar areal Pantai Bangsal. Kedua, Pelabuhan Sanur diprioritaskan untuk “sirkulasi” penumpang. Karena itu, setiap penumpang dianjurkan tidak membawa barang bawaan yang berlebihan.  

Berbeda dengan waktu pelabuhan FB berada di areal Pantai Bangsal. Tidak ada kebijakan tentang keterbatasan barang bawaan. Bahkan, perusahaan FB sangat terbuka menerima barang titipan yang hendak diseberangkan ke NP.

Semenjak beroperasi, Pelabuhan Sanur sangat ketat dan komitmen dengan kebijakannya. Kebijakan ini membuat masyarakat yang hendak menitip barang menjadi kelimpungan. Jika menitip ke kapal di Pelabuhan Padang Bay terlalu jauh. Di samping itu, kapasistas barang yang dititip juga tanggung (misalnya 1-2 dus barang atau 1-2 karung).

Dampak kebijakan Pelabuhan Sanur ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat umum, terutama kelompok porter lepas. Mereka pasrah dan hampir membubarkan diri. Syukurnya, ada celah underground (tercembunyi). Awak FB membuka peluang untuk memperpanjang napas para porter lepas tersebut.   

Beberapa awak FB membuka lowongan penitipan barang melalui areal Pantai Bangsal. Jadi, sebelum masuk antrian di Pelabuhan Sanur, awak FB ini bersandar untuk menaikkan barang titipan di Pelabuhan Pantai Bangsal. Beberapa ada yang menggunakan boat kecil (skoci) untuk mengambil barang titipan di Pantai Bangsal. Jasa angkut ini menggunakan tenaga porter lepas.

Untuk kedua kalinya, nasib porter lepas ini terselamatkan hingga sekarang. Mereka tetap bisa melangsungkan hidupnya dengan mengangkut khusus barang titipan dengan persentase ongkos yang telah disepakati oleh awak FB dengan porter lepas.

Setelah berjalan kurang lebih satu tahun, bayang-bayang masalah muncul lagi. Sekarang, mulai muncul boat cargo lengkap dengan jajaran porternya untuk mengakomodir jasa penitipan barang ke NP. Keberadaan boat cargo ini seolah-olah hendak monopoli per-porter-an di Pantai Bangsal.

Tentu para porter lepas tersebut sudah menyiapkan strategi atas kemungkinan hegemoni perusahaan boat cargo beserta jajaran porternya. Namun, apapun dinamikanya nanti, kita berharap kelompok porter lepas ini tetap eksis dan tetap dapat melangsungkan hidupnya seperti semula.

Sabtu, 28 Januari 2023

Eks Pelabuhan Sanur: kini Sudah Tak Melayani Penyeberangan Penumpang Lagi


Meski berulang-ulang, perayaan hari raya Galungan di kampung saya dulu (tahun 90-an, Nusa Penida, Bali) tetap dirasakan greget. Gregetnya tampak dari hari III, II dan I sebelum hari raya Galungan. Selama 3 hari inilah denyut Galungan terasa, yang ditandai dengan arus mudik yang tak biasa dari Bali seberang. Para pemudik datang dari Pelabuhan Sanur ke Pelabuhan Dermaga Banjar Nyuh-NP, dengan jukung bermesin yang overload dan standar safety yang minim, demi merayakan Galungan di kampung halaman bersama keluarga.

Selama 3 hari menjelang Galungan, Dermaga Banjar Nyuh (DBY) bisa kedatangan jukung lebih dari 4-5 perharinya (normalnya, 1 jukung perhari). Jumlah penumpangnya pun tidak main-main. Jika kapasitas normalnya berkisar 80-90, maka menjelang Galungan bisa mencapai 120 lebih. Para penumpang yang rindu kampung halaman itu duduk seperti be pindang mulai dari belakang dekat mesin jukung , dalam bodi jukung, ujung depan hingga di atas atap jukung.

Situasi overload ini diperparah oleh barang bawaan penumpang yang tergeletak serampangan. Namun demikian, tidak menyurutkan beberapa penumpang (yang perokok) menyemburkan asap rokoknya secara sporadis. Asapnya meluber ke hidung-hidung penumpang lainnya bersama parfum, bau ayam, bau bebek dan bau-bau lainnya.

Namun, kondisi tak nyaman itu tidak membuat para pemudik kapok. Mereka tetap saja berniat besar untuk pulkam setiap menjelang Galungan. Tidak peduli apapun proses yang harus dilewati. Karena itu, menjelang hari raya Galungan, Pelabuhan DBY selalu kebanjiran orang (pemudik Galungan).

Situasi yang tak biasa tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi persatuan ojek di DBY. Ketika jukung mendarat, puluhan tukang ojek langsung menyerbu penumpang dengan rayuan mautnya. Tawar-menawar harga liar dimulai. Biasanya, tak butuh waktu lama. Negosiasi segera disepakati. Si tukang ojek langsung mengambil tangan sang penumpang yang cantik beserta barang bawaannya. Spontan sorak-sorai masyarakat memecah keramaian pelabuhan.

Di samping tukang ojek, ada sekelompok masyarakat biasa yang iseng cuci mata. Para pencuci mata itu kebanyakan dari kalangan pemuda. Mereka ikut berbaur hanya untuk bersorak-sorai dan menonton pemudik cantik, seksi, montok yang berdandan ala anak metropolitan.

Zaman itu, ojek menjadi satu-satunya alternatif tranportasi darat yang efektif dan digemari masyarakat. Sepeda motor dapat mengantar penumpang hingga depan rumah, walaupun melewati jalan setapak nan terjal. Karena itu, pilihan motor yang digunakan biasanya RX Special, RX King dan GL Pro.

Ketiga motor tangguh ini berderu di atas jalan beraspal kasar dan sempit. Tampak wajah-wajah tukang ojek ceria membonceng pemudik metropolis yang berbusana pendek dan ketat, dengan parfum sedikit menyengat, kulit halus mengkilap, kaki mulus serta rambut terurai ditiup angin.

Jalanan mendadak menggeliat. Para tukang ojek mengangkut pemudik modis secara sambung-menyambung. Mirip pesta arak-arakan. Membuat siapa pun yang melihat spontan melototkan mata, walau hanya sekejap.

Maklum, lari motor si tukang ojek tidak ada yang pelan. Mereka mengendarai motornya dengan sekencang mungkin agar mendapatkan penumpang di pelabuhan lagi. Semakin cepat, maka berpeluang besar untuk mengangkut penumpang lebih banyak. Peluang ini sangat dimaksimalkan oleh tukang ojek, sebab masih jarang orang memiliki sepeda motor pribadi. Hanya sedikit orang yang memiliki sepeda motor dan dimanfaatkan untuk ngojek guna meraup rezeki menjelang hari raya Galungan.

Tren Menjadi TKW

Jika diamati lebih detail, para pemudik itu didominasi oleh kaum perempuan. Usianya masih belia, sekitar 13-18 tahunan. Umumnya, mereka bekerja sebagai TKW di Pulau Bali. Mereka mendapat izin pulang, merayakan hari raya Galungan bersama keluarga setiap enam bulan kalender Bali.  

Akhir tahun 80-an dan sepanjang tahun 90-an, bekerja sebagai TKW seolah-olah menjadi tren. Kebanyakan perempuan-perempuan belia (waktu itu) hanya kuat bersekolah pada tingkat SD. Tamat dari SD, mereka berlomba-lomba bekerja menjadi TKW di kota-kota, Bali seberang (Denpasar, Badung, Gianyar).

Bahkan, yang tidak sabar, beberapa langsung berhenti sekolah. Ada yang berhenti waktu  kelas 5 atau kelas 6 SD. Mereka ikut-ikutan mengadu nasib menjadi TKW di Bali seberang, termasuk saudara sepupu saya. Dari 8 saudara sepupu saya, hanya satu yang mampu menamatkan diri dari bangku SD. Sisanya, adalah putus sekolah. Semuanya pernah menjadi TKW di Bali daratan.

Zaman itu, kesadaran akan pendidikan tinggi memang masih kurang di kampung saya dan beberapa desa lainnya. Pendidikan dianggap sebagai pemborosan dan tidak menghasilkan uang. Maklum, ekonomi masyarakat kala itu masih rendah.

Per tahun 2011 saja, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, KB dan Pemerintahan Desa Kabupaten Klungkung mencatat bahwa angka kemiskinan terbesar di Klungkung disumbangkan oleh Kecamatan NP yang mencapai 48,8 % (hampir 50 persen). Sementara Klungkung 13,14 %, Banjarangkan 11,98 dan Dawan 11,38 %. (https://media.neliti.com/media/publications/44256-ID-profil-penduduk-miskin-didesa-desa-pesisir-nusa-penida-kabupaten-klungkung.pdf).

Di samping karena faktor geografis, kondisi kemiskinan dulu juga dipicu oleh jumlah anggota keluarga. Setiap KK, rata-rata harus menghidupi lebih dari 4 anak. Dengan melepaskan anak sebagai TKW, bisa jadi sangat membantu meringankan beban ortu waktu itu. Karena itulah, beberapa anak laki-laki juga ikut-ikutan menjadi tenaga kerja. Lapangan pekerjaan yang sempit di kampung, beban hidup ortu yang berat, membuat mereka harus hengkang ke kota seberang.

Begitulah dulu. Zaman ketika partai Golkar menjadi superior, sedangkan PPP dan PDI hanya menjadi pesaing hiburan. Zaman ketika gedung SD Inpres sudah berjamuran di desa saya. Sayangnya, kesadaran pendidikan warga masih belum terbangun optimal.

Pendidikan tinggi masih dipandang remeh oleh masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dari dagelan-dagelan obrolan masyarakat dalam kesehariannya sebagai berikut: “Ngudiang sekolah tegeh-tegeh. Nyen kal ganti? Presiden nu hidup. Menteri nu seger.” (Ngapain sekolah tinggi-tinggi. Siapa mau diganti? Presiden masih hidup. Menteri masih sehat).

Itulah dagel-dagelan yang berkembang kuat.di kampung saya. Zaman ketika Soeharto dan Harmoko menjadi penguasa tv. Presiden dan menteri penerangan (tak tergantikan) masa orba ini hampir tidak pernah absen dari TVRI. Apakah dagelan ini sebuah otokritik terhadap Soeharto yang tak tergantikan sepanjang orba? Atau jangan-jangan dagelan itu sangat politis hendak mengukuhkan Soeharto sebagai presiden seumur hidup? Entahlah.

Yang jelas, efek dagelan itulah yang mungkin membentuk mind set masyarakat menyekolahkan anaknya cukup di tingkat SD saja. Masyarakat menilai bahwa pendidikan terbatas pada pembebasan diri dari kasus buta huruf. Yang penting anak-anak memiliki kemampuan membaca huruf, menulis huruf dan menghitung dasar. Modal ini sudah dirasakan cukup.

Karena itu, tamat SD, mereka diarahkan untuk bekerja di Bali seberang. Kondisi ini (secara tak sadar) menyebabkan siswa tidak memiliki visi pendidikan. Cukup sampai SD. Yang penting sudah bisa baca, tulis dan menghitung. Selanjutnya, mereka siap bekerja di kota-kota Bali seberang.

Setelah bekerja di kota, setiap 6 enam, mereka diberikan kesempatan pulang ke kampung halaman, NP. Kelompok inilah yang paling mendominasi arus mudik menjelang Galungan di pelabuhan DBY. Sisanya ialah dari kalangan pedagang, pelajar, mahasiswa dan pekerja profesional lainnya. Namun, kelompok pekerja usia sekolah inilah yang menggetarkan denyut perayaan Galungan di NP—termasuk pasca Galungan.

Satu hari setelah Galungan, kelompok pekerja usia sekolah ini nongkrong (bertemu) di satu titik lokasi, Dermaga Banjar Nyuh. Mereka menikmati deburan ombak, langit, dan laut di atas DBY sambil cuci mata, mencari kenalan bahkan memadu asmara. Di samping itu, ada pula masyarakat umum, para orang tua dan anak-anak dengan baju barunya.

Manis Galungan terasa begitu meriah. Sepanjang dermaga dipadati orang dari berbagai desa di NP. Mungkin inilah momen yang paling besar bagi para pekerja usia sekolah untuk mencari kenalan dan menjalin asmara. Karena esoknya, mereka harus balik. Kembali bekerja dengan kesibukan masing-masing sebagai tenaga kerja di Bali seberang.

Tren menjadi tenaga kerja usia sekolah ini pelan-pelan mulai berkurang ketika budidaya rumput laut berkembang di NP. Setidak-setidaknya, anak-anak dapat menamatkan diri dari SMP dan SMA. Seiring peningkatan penghasilan rumput laut, kesadaran bersekolah ikut terbangun. Generasi remaja tahun 90-an, bertani rumput laut sambil membiayai sekolahnya sendiri.

Kesetaraan gender mulai tampak. Awalnya, hanya kaum laki-laki yang diprioritaskan mengenyam pendidikan tinggi. Sedangkan, kaum perempuan tetap diarahkan bekerja menjadi TKW. Akan tetapi, seiring dinamika, kaum perempuan juga ikut mengenyam pendidikan hingga menengah ke atas. Hingga memasuki tahun 2000-an, pendidikan kaum perempuan dan laki-laki kian mendapatkan kesetaraan.

Generasi pekerja usia sekolah ini kian tenggelam. Mereka memasuki fase berkeluarga dan taat dengan program KB. Generasi yang lahir kian mendapatkan kesetaraan gender, termasuk dalam hal pendidikan.

Zaman kesetaraan itu pula yang menutup lemba-lembar kemeriahan perayaan Galungan ala dulu di NP. Tak ada lagi cerita jukung overload dan deru suara RX Spesial, RX King dan GL Pro. Tak ada lagi anak-anak berkumpul, bermain dan menggenakan baju baru. Tak ada lagi cerita nasi beras yang istimewa. Tak ada lagi titik kerumunan massa secara massif sebagai ikon kemeriahan Galungan.  

Sudah tak ada lagi sekarang! Kini greget perayaan Galungan sudah bergeser. Bergeser ke dalam kemeriahan status di dunia gadget. Orang-orang lebih senang merayakan Galungan sendiri-sendiri. Anak-anak, remaja dan termasuk orang tua sangat menikmati kemeriahan perayaan Galungan lewat gadgetnya masing-masing di rumah.

Jumat, 20 Mei 2022

 


Sapi, ladang, dan bataran ladang di NP. Foto: I Ketut Serawan



Nama “batu” bertebaran di beberapa wilayah Nusa Penida (NP). Kata batu dilekatkan dengan variasi kata lainnya sebagai nama desa, dusun, banjar dan tempat tertentu dalam teritorial banjar. Kita mulai dari wilayah timur, Desa Suana, ada nama Banjar Jurang Batu. Bergeser ke barat sedikit, kita berjumpa Desa Batununggul yang membawahi Banjar Batumulapan. Kemudian, di seberang barat agak utara, ada Desa Jungut Batu. Naik ke selatan, kita bertemu Desa Batumadeg—yang tak jauh dengan Desa Batukandik. Adakah nama-nama batu tersebut terinspirasi dari geografi NP yang dominan berbatu kapur?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita melihat ke masa lampau tentang nama “Gurun” yang pernah disematkan kepada kepulauan NP dalam prasasti batu yang ditemukan di Desa Blanjong (Sanur) 913 M (Sidemen, 1984). Pemilihan nama gurun ini mungkin berkonotasi dengan kondisi geografi NP yang berbatu kapur, kering, tandus, berdebu dan panas.

Kesan kuat berbatu kapur juga pernah dituliskan sejarawan Sidemen setelah membaca referensi H.N. van der Tuuk, Kawi Balineesch Nederlandsch Woordenboek, vol.IV. (Batavia: Landsdrukkerij, 1912; p.19). Sidemen memaparkan bahwa nama Nusa Penida sangat tepat karena “Penida” bermakna kapur tohor (pamor bubuk).

Apa yang dideskripsikan oleh sejarawan tentang NP tentu tidak berlebihan. Ya, karena realitanya struktur permukaan bumi (geografi) Pulau NP memang dominan berbatu kapur. Hampir semua gigir pulau dikelilingi karang raksasa jenis batu kapur (kecuali belahan bagian utara). Batu karang ini berjejer rapat mengikuti lekuk tubuh pulau. Seolah-olah menjadi fondasi pulau dan sekaligus benteng pertahanan. Benteng pertahanan dari “gempuran harian” ombak dan gerusan air laut.

Konon, pembentengan diri ini juga berdampak terhadap Pulau Bali di seberang. Dulu, waktu SMA, saya pernah membaca pada salah media cetak (Koran di Bali) yang menyebutkan bahwa Pulau NP dianggap sebagai semacam breakwater (pemecah gelombang) alami—untuk melindungi beberapa bagian daratan Pulau Bali (di sebelah utara NP) dari kasus pengikisan, abrasi dan sejenisnya.  Peran benteng alami inilah mungkin yang menyebabkan fondasi Pulau NP berbatu kapur.

Bukan hanya pada gigir pulau, tanah perbukitan pulau NP juga didominasi oleh batu kapur. Bahkan, dominasi batu kapur juga terlihat pada hampir semua permukaan tanah pulau. Paling simpel melihatnya ialah pada tegalan atau ladang-ladang para warga yang produktif. Lapisan tanahnya tipis. Sisanya, lapisan batur kapur.

Karena itu, jangan heran jika melihat petak ladang warga dibatasi oleh bataran-bataran batu. Semua bataran itu menggunakan jenis batu kapur. Bataran ladang yang artistik tersebut berasal dari batu kapur besar. Sebelum dijadikan bataran ladang, batu besar dibelah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Kemudian, pecahan kecil itu ditata (ditumpuk-tumpuk) setinggi bidang datar tanah dan memanjang mengikuti lekuk bidang datar tanah ladang.

Dalam proses “mataran” ladang, sama sekali tidak menggunakan luluh. Para petani murni menggunakan skill menumpuk dengan memperhatikan kesesusaian permukaan batu satu dengan batu lainnya. Jika tidak memiliki skill menumpuk, dipastikan bangunan bataran ladang akan ambruk dan berserakan.

Bataran ladang tidak hanya menjadi pembatas milik, juga berfungsi untuk menahan tanah dari gerusan embah saat hujan. Permukaan tanah tipis sangat riskan terseret air hujan. Jika hujan turun seharian, maka dipastikan tanah-tanah akan berlarian mengikuti arah air bah. Permukaan tanah menjadi menipis. Bahkan, lebih parah lagi, muncul batu-batu besar di permukaan ladang.

Dominasi batu kapur di NP memunculkan beberapa istilah khusus tentang batu. Di kampung saya, dikenal istilah batu lempeh (batu kapur yang permukaannya pipih), batu dogong (batu kapur besar seperti onggok duduk/ berdiri), batu gamongan (batu kapur yang mudah rapuh dan mengandung banyak pamor/ kapur), batu lintang (batu kapur yang strukturnya sangat keras), batu parangan (batu kapur yang artistik, biasanya menyerupai sosok tertentu) dan lain sebagainya.

Tidak hanya memunculkan lema khusus, kedekatan terhadap eksistensi batu kapur juga menjadi inspirasi dalam penamaan. Selain disebutkan sebelumnya, nama-nama tempat dengan kata batu cukup banyak di NP. Misalnya, Batu Medau di wilayah Desa Suana, Batu Majuh (Banjar Batumulapan), Batu Gaing (Desa Bunga Mekar), Batu Guling (Desa Batukandik), Batu Megong (Desa Batukandik) dan lain sebagainya.

Belum lagi, nama-nama “karang”. Karang dalam bahasa Bali berarti batu. Nama tempat yang menggunakan kata “karang” cukup banyak di NP. Misalnya, Karang Ampel, Karang Anco, Dusun/ Banjar Karangsari (Desa Suana), Dusun/ Banjar Karang (Desa Pejukutan), Dusun Karangdawa (Desa Bunga Mekar) dan lain sebagainya.

Inspirasi Batu

Penggunaan kata “batu” atau “karang” sebagai nama tempat di NP tentu bukan berangkat dari halusinasi yang kosong. Batu merupakan realitas sehari-hari yang akrab dalam lingkungan masyarakat NP.

Sebagai realita lingkungan, batu kapur dapat dijadikan sumber inspirasi dalam berbagai kepentingan. Salah satunya sebagai kepentingan penamaan sebuah tempat. Dalam hal tertentu, penamaan kadang-kadang diambil dari unsur lingkungan alam sekitarnya—yang dianggap dominan, unik, dan mereprensentasikan suatu tempat. Misalnya, nama Sebunibus, nama desa adat kampung saya.

Menurut tetua saya, nama itu diambil dari nama pohon yang bernama “ibus”. Konon, dulu pohon jenis ini tumbuh banyak di wilayah Sebunibus. Katanya, sejenis tumbuhan rambat gantung. Namun, saya tidak pernah melihat wujud pohon tersebut. Bisa jadi memang sudah punah. Entah karena faktor apa. Tidak ada yang persis tahu.

Karena dominan (banyak), maka dipinjamlah nama “sebun” untuk menggambarkan lebih dari satu pohon. Kata “sebun” mewakili kuantitas atau jumlah pohonnya. Jadi, “sebun” itu representasi dari jumlah pohon—sedangkan “ibus” mewakili nama pohon yang (pernah) tumbuh di wilayah atau tempat tersebut. Simpelnya, nama Sebunibus lahir dari dominasi pohon unik yang tumbuh di alam sekitar wilayah tersebut. Sesederhana itukah? Entahlah.

Mungkin saja, ada faktor lain yang juga melatarbelakangi keputusan atas nama Sebunibus itu. Entah keunikan pohonnya, perannya dan atau ada peristiwa (histori) penting yang mengiringinya—seperti nama Batu Megong yang pernah saya baca. Konon, nama Batu Megong terinspirasi dari peristiwa (histori) euforia kemerdekaan (kemenangan) masyarakat NP atas kekalahan raja Nusa (Dalem Sawang) yang zolim oleh Dalem Dukut. Peristiwa ini dirayakan oleh masyarakat dengan memukul-mukul gong sebagai ekspresi “kegembiraan” di suatu tempat. Tempat yang dimaksud ialah daerah Batu Megong.

Nama Batu diambil dari lingkungan alam sekitar, sedangkan Megong diambil dari peristiwa atau momentum penting yang terjadi di sekitar tempat tersebut. Nama Batu Megong berasal dari detail item yaitu batu (alam sekitar), gong (alat musik tradisional), megong (tindakan/ laku), merayakan (laku) dan kemenangan (hasil). Jadi, nama Batu Megong dapat dibaca sebagai representasi kolaborasi antara unsur lingkungan alam nyata dan momentum penting yang terjadi di tempat itu.

Pemberian nama batu atau karang merupakan hal yang kontekstual. Cocok dengan lingkungan alam sekitar di NP. Saya yakin bahwa nama-nama batu lainnya tidak lepas dari lingkungan alam. Pun nama-nama yang ada embel-embel karang. Setidak-tidaknya, nama batu/ karang yang melekat pada nama suatu tempat memiliki kedekatan dengan lingkungan alam sekitar. Citraan nama inilah yang menyebabkan kesan identik atau ikonik menjadi lebih kuat.

Mengapa harus batu atau karang? Tidakkah diksi ini hendak menajamkan kesan gersang dan tandus dari geografi NP? Jika benar demikian, berarti bertolak belakang dengan prinsip “nama sebagai doa dan harapan”. Artinya, diksi batu menjadi kurang tepat, bukan? Eiits.., tunggu dulu!

Kesan yang ditimbulkan dari kata batu memang kurang positif. Kering kerontang, minim pangan dan lain-lainnya. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang bertahan hidup di lingkungan daerah itu? Strategi hidup apa yang digunakan orang NP agar dapat survive dengan modal keterbatasan daya dukung alam tersebut?

Jawabannya ialah modal fondasi karakter yang kuat. Hidup dalam lingkungan alam yang terbatas membutuhkan karakter sekeras batu. Dibutuhkan usaha hidup yang keras, tekad keras, kegigihan dan kerja keras. Tanpa fondasi karakter yang keras (baca:kuat), maka “bangunan hidup” akan menjadi runtuh.

Karena itu, wajar batu dimanfaatkan sebagai fondasi utama sebuah bangunan. Karakter kerasnya menyebabkan batu menjadi andalan penopang struktur bangunan. Batu mampu bertahan walaupun ditindih oleh berbagai material lainnya. Pada zaman lampau (prasejarah), peran batu lebih urgen lagi. Batu menjadi peralatan kehidupan sehari-hari oleh manusia pada zaman batu. Atas ketahanan dan kekuatannya, batu juga digunakan sebagai media prasasti (dokumen sejarah) dan prasarana untuk menyalurkan hasrat menyembah (ber-kepercayaan-an).

Jadi, nama-nama batu  (di NP) sesungguhnya hendak mengabadikan beberapa spirit penting. Pertama, spirit kesadaran. Tetua kita dulu hendak menyadarkan bahwa lingkungan alam Nusa terbatas—berbatu kapur, gersang, tandus dan minim air.

Kedua, spirit survive. Seperti apapun kondisi alamnya, hidup wajib dipertahankan. Hak untuk hidup tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mutlak! Ketiga, spirit hidup keras. Berada pada posisi antara keterbatasan SDA dan pilihan hidup, maka harus diimbangi oleh SDM yang berspirit hidup keras. Dibutuhkan kreativitas, usaha keras, ketekunan, keuletan, dan kegigihan yang ekstra.

Spirit hidup keras ini menjadikan orang NP terlatih menjalani hidup sulit. Batu kapur tak ubahnya seperti sekolah atau kampus alam. Ia menempa, mendidik, melatih dan menciptakan karakter hidup yang keras—sekeras batu. Jadi, tidak mengherankan jika rata-rata orang NP (dulu) memiliki pribadi ulet, kuat dan  tangguh. Karena itu, konon beberapa lulusan kampus “batu kapur” sukses di negeri rantauan (misalnya, daerah transmigran)—daerah yang daya dukung alamnya sangat memadai.

Jadi, tidak ada yang kebetulan ketika nama-nama batu bertebaran di wilayah NP. Nama-nama itu mengandung doa dan ekspektasi (positif) yang abadi. Pada nama-nama batu itu, kita selalu diingatkan untuk menjadi orang yang berkarakter survival, berkarakter fighting dan kompetitif. Saya menyebutnya dengan karakter “ke-batu-an”. Karakter “kebatuan” ini mungkin sudah membudaya secara kolektif pada orang NP dulu.

Bagaimana dengan generasi milenial NP yang sekarang? Apakah karakter “kebatuan” itu masih ada? Saya berharap tetap ada. Sama seperti nama-nama batu yang ada di NP. Semoga suatu saat tidak lenyap atau diganti—sehingga spiritnya tetap abadi. Abadi menjadi alarm bagi generasi NP selanjutnya.