Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Mei 2021

 


Foto: repptu.blogspot.com 


                                                 Purnama mendapatimu murung

                                                 Memetik lembar-lembar malam

                                                 Yang mengambang berlipat bayang

                                                 Di atas pucuk-pucuk ranting

                                                 Jiwa yang mengering

                                                 Berkerdip tanahmu hendak menelan

                                                 Haus bayang yang mengganjal

                                                

Kau masih bergumam memeram sisa kemarau lalu

Musim yang terluka

Yang pahitnya kini dirasakan

Guguran daunmu

 

Ketika matahari menyepuh galaumu

Kau berbagi sunyi dengan Sri Krisna

Lalu Arjuna melepaskan busur panah

Menembus malam yang koyak oleh dustamu

 

Kau hendak membelah medan Kurusetra

Membangun istana perang dengan mahkota api

Tapi, laut memintal tasbih

Berdenyut doa-doa pasupati pada hujan

Rintiknya kini jatuh di tanahmu

Melukis rerajahan sejarah berdebu

Gambar-gambar berhuruf purba

Tentang Kau, Aku, dan burung garuda

 

Kita adalah rumah napas

Memberi jantung pada pelipur lara

Menyulam ringkih malam

Menjadi dongeng-dongeng kawitan

(Batubulan, 19 Oktober 2019)

Puisi ini masuk sebagai nominasi Lomba Menulis Puisi di kalangan Guru se-Bali.

 

Foto: tempo.co


Siapa kau?

Seorang diri terperangkap

di hamparan ladang yang pecah

bimbang hendak memanen bayang-bayang moyangmu

yang renta

 

Siapa kau?

Napasmu retak dalam situs kemarau

siangmu membuncah

gambar-gambar pelangi tanah

 

Burung-burung hinggap di tubuhnya

meminum keringatnya sendiri

tak bisa lagi kau titipkan arah

menuju pelaminan buah

 

Siapa kau?

Dari kemarin duduk melafalkan mantra

tapi mendung tak pernah lindap di lidahmu

kau hanya mampu mengunyah malam

lalu, memuntahkan cahaya bulan

pada kanvas musim

menjelma lukisan serupa pohon-pohon dari jantung hujan

 

Siapa kau?  

Dari kemarin ibu-ibu protes

mengawetkan lapar di atas ponapi

di depan api, anak-anak menagih janji peri

mendongengkan romansa palawija

hingga dilelap mimpi

 

Keesokan harinya petir meranggas di tubuhmu

retak bersama lekuk garis-garis tanah.

                                                                        (Batubulan, 25 Mei 2020)

Puisi ini masuk nominasi Lomba Menulis Puisi Tingkat Umum (Penyelenggara Penerbit Kertasentuh) dan dibukukan dalam antologi puisi nasional yang berjudul "Nayanika"

 

Foto: www.republika.co.id


Gerimis penghujung semester

turun tak sempurna di halaman sekolah

tanpa bentang pelangi wajahmu

sebab riuh warnamu telah disemedikan langit

dalam belantara hutan mata kita

 

Setiap kedip hari kita

t’lah dibulatkan menjadi biji-biji tasbih

pada kalung pertapa moyang kita

maka, tunduklah kita pada takdir lingkaran

diputar serupa sirkus tata surya

entah oleh jari-jemari pertapa siapa

lalu kita terjebak

berjumpa hari-hari yang sama 

 

Hari yang membuat nasib kita renta

tergeletak menjadi rel-rel tua

Siapa yang sanggup menahan laju gerbong kita

 

Stasiun cerita mesti kita gapai

tak peduli media mabuk aksara

menebar angka-angka beraroma vodka

di kepala dan perut kita

 

Tahan saja mual prasangka

yang menghimpit tenggorokan kita!

Jangan sampai muntah!

nanti sekolah yang kita kunyah

keluar berlompatan dari perut kita

lalu mengalir pada wastafel

bersama air sabun bekas cucian tangan manusia

 

Jangan! Sekolah mesti diriuhkan dalam tubuh kita

seperti hiruk pesta obor di tengah malammu

yang menuntun tangan-tangan pemain drum band

menabuh getar jantung 45

mengusir kegelapan senyapmu

 

Jangan biarkan ketakutan mengental begitu saja

‘kan menjadi sumbatan keinginan kita

sebab cita harus mengalir

bersama sungai menuju lautmu

kita tunggu gemuruh kelas

berdebur di pantai amnesiamu

                                                (Batubulan, 31 Juli 2020)

           

 

 


Foto: id.depositphoto.com
Musim tiba-tiba saja lindap

Di bilik jantung kita

Memompa getar ketakutan

Pada setiap denyut tarikan napas kita

 

Dari balik masker, orang-orang berkomat-kamit

Seperti hendak membaca mantra teluh

Mengutuk jejak bayang-bayangnya sendiri

 

Lalu kau dan aku tersesat pada sebuah negeri patung

Tempat kelebat curiga

Dipelihara dalam kepak sayap-sayap kelelawar

Yang lapar menelan siluet senja

 

Ah, jalanan tiba-tiba kehilangan denyut nadi

Tak menyediakan celah mimpi

Sebab malam telanjur pecah menjadi kota mati

Di sudut bola mata kita sendiri

 

Esok menjadi lunglai

Namun, jarum jam tak boleh lelah

Memutar letih dini hari

Siapa tahu kita berjumpa tujuh bidadari entah di detik perih keberapa

Lalu kita akan berbagi pagi, sungai, dan kicau hari

 

Karena esok mesti rampung kita tulis dalam buku Seribu Mimpi

Di situlah kita menangkar asa

Membentengi diri dari gulma prasangka dan konspirasi kura-kura

Sambil menunggu jarak

Tenggelam dalam bendungan rindu kita

Lalu kita bayangkan sekolah

Sebagai tempat berbagi ari-ari kita

                                                (Batubulan, Tumpek Landep, 18 Juli 2020) Puisi ini merupakan salah satu puisi  yang masuk nominasi Lomba Menulis Puisi Guru Tingkat Nasional.

 

Foto:joenwallpaper.blogspot.com

 Ada sunyi yang dingin

menusuk pedalaman tubuhmu

ketika sepiring ladang tak lagi

tersaji di atas meja sarapan pagimu

 

Matamu hambar

tak mengedipkan nikmat pepohonan

semangatmu gugup

mengayunkan cangkul di ladang kediamanku

 

Sudahlah!

berhentilah mengintip pagi bersiul dari bilik jendela

hanya menambah luka embun saja

sebab rumput-rumput sudah berkhianat

bercumbu dengan vodka

di balik gorden-gorden kamarku

 

Berhentilah menulis kemungkinan 

dari aksara air mataku

untuk merengek getarkan perasaan musim

 

Hujan tlah menguning masa laluku

bersama sepuluh purnama yang gugur

ditelan nikmat Kalarau

 

Kita hanya bisa memukul kentongan

menciptakan getar-getar bunyi menjadi mimpi

siapa tahu kunang-kunang

menjenguk kita nanti malam

                                                                                        (Batubulan, 7 Juni 2020) 

Puisi ini merupakan pemenang Juara 1 Lomba Akademisi Menulis Buku (Kategori Puisi) Tingkat Nasional.