Selasa, 25 Mei 2021

 

Foto: www.republika.co.id


Gerimis penghujung semester

turun tak sempurna di halaman sekolah

tanpa bentang pelangi wajahmu

sebab riuh warnamu telah disemedikan langit

dalam belantara hutan mata kita

 

Setiap kedip hari kita

t’lah dibulatkan menjadi biji-biji tasbih

pada kalung pertapa moyang kita

maka, tunduklah kita pada takdir lingkaran

diputar serupa sirkus tata surya

entah oleh jari-jemari pertapa siapa

lalu kita terjebak

berjumpa hari-hari yang sama 

 

Hari yang membuat nasib kita renta

tergeletak menjadi rel-rel tua

Siapa yang sanggup menahan laju gerbong kita

 

Stasiun cerita mesti kita gapai

tak peduli media mabuk aksara

menebar angka-angka beraroma vodka

di kepala dan perut kita

 

Tahan saja mual prasangka

yang menghimpit tenggorokan kita!

Jangan sampai muntah!

nanti sekolah yang kita kunyah

keluar berlompatan dari perut kita

lalu mengalir pada wastafel

bersama air sabun bekas cucian tangan manusia

 

Jangan! Sekolah mesti diriuhkan dalam tubuh kita

seperti hiruk pesta obor di tengah malammu

yang menuntun tangan-tangan pemain drum band

menabuh getar jantung 45

mengusir kegelapan senyapmu

 

Jangan biarkan ketakutan mengental begitu saja

‘kan menjadi sumbatan keinginan kita

sebab cita harus mengalir

bersama sungai menuju lautmu

kita tunggu gemuruh kelas

berdebur di pantai amnesiamu

                                                (Batubulan, 31 Juli 2020)

           

 

0 komentar:

Posting Komentar