Selasa, 04 Mei 2021

 

I Putu Adit Aditya

Beda Kurikulum, Semangat Belajar Tetap Menyala


I Putu Adit Aditya
I Putu Adit Aditya adalah salah satu siswa korban erupsi Gunung Agung. Siswa asal SMP Negeri 3 Bebandem ini terpaksa harus pindah ke SMP Cipta Dharma Denpasar karena daerahnya masuk zona merah.  Meskipun beda kurikulum, ia tetap semangat untuk belajar.

Adit merupakan murid yang cukup pintar. Ia selalu mendapat peringkat 10 besar di sekolahnya. Urusan akademik, Adit tidak menemui kendala. Namun, semenjak pindah ke SMP Dharma, kegiatan akademik sedikit terganggu. Ia agak minder belajar di SMP Cipta Dharma. Persoalan bukn karena lingkungan baru, tetapi kurikulum disekolah sekarang sangat berbeda dengan kurikulum di sekolah asalnya. “Kurikulumnya beda banget. Aku sedikit grogi belajar,” ujar pria yang lahir pada tanggal 1 Oktober 2002 ini.

Kendati demikian, dirinya sangat bersemangat belajar karena adanya motivasi dari teman-teman di sekolah barunya. Tidak hanya teman-teman, para guru di SMP Cipta Dharma juga sangat memotivasi dirinya untuk giat belajar.”Tidak hanya siswanya, guru-guru di sini juga baik sekali. Mereka selalu ngedukung belajar saya. Inilah yang memotivasi untuk terus semangat belajar,” terang pria berzodia Libra ini.

Aktivitas Adit sebelum mengungsi yaitu membantu bibinya berjualan di kampung. Namun, semenjak mengungsi ia hanya bisa melakukan aktivitas seadanya, seperti memancing dan bermain ke pantai.

Saat ini, Adit mengungsi di perumahan Puri Candra Asri Blok G. Dia tinggal bersama ayah, ibu, dan 1 Adik laki-laki. Satu minggu belakangan, ayah dan adiknya sempat bolak balik ke kampong karena adiknya harus mengikuti Ulangan Tengah Semester (UTS).

Setelah belajar kurang lebih 2 minggu, kini Adit sudah akrab dengan teman-teman di SMP Cipta Dharma. Walau pun demikian, kadang-kadang ia merasa rindu dengan teman-teman di sekolah asalnya.  Namun berkat BBM, ia tetap bisa berkomunikasi dengan temannya.

Kini Adit hanya berharap semoga Gunung Agung cepat meletus, agar semua yang mengungsi segera balik kampong. “Aku sih pinginnya cepat meletus. Daripada kayak sekarang, tidak ada kepastian,” paparnya dengan nada sedih. (Shinta)           

0 komentar:

Posting Komentar