Selasa, 04 Mei 2021

 

Negeri Favorit, Milik Siswa Berduit

  

Foto: Merdeka.com
Pada mulanya, sekolah negeri favorit identik dengan siswa yang berkualitas secara akademik. Artinya, hanya siswa yang memiliki kemampuan tinggi yang bisa bersekolah di sekolah negeri favorit. Namun belakangan, citra ini pelan-pelan mulai bergeser. Sekolah negeri favorit merupakan kumpulan siswa yang tinggi ekonominya. Itulah komentar yang diungkapkan oleh Putu Satria Prawira, salah satu siswa Smansa 1 Denpasar, yang kini duduk di bangku kelas XII. “Sekolah negeri favorit itu milik siswa berduit,”terangnya sinis.

Hal senada juga dikemukan oleh Made Putra Kusuma. Teman sekelas Satria ini mengemukakan bahwa untuk mendapatkan sekolah negeri favorit memang harus bermodal dulu. Karena kebutuhan di sekolah negeri favorit pasti berbeda dengan sekolah biasa, terutama dalam hal pengadaan fasilitas sekolah. Oleh karena itu, ia membenarkan kalau orang tua harus siap membiayai fasilitas-fasilitas itu demi kualitas pendidikan anak-anak mereka.

Berbeda dengan Putra, Kadek Toni Wirama justru punya pandangan lain. Menurutnya, sering sekolah negeri favorit terutama di Denpasar memanfaatkan kesempatan favorit itu sebagai promosi untuk memungut uang banyak. ”Bayangkan, konon ada sekolah negeri favorit di Denpasar mengadakan pungutan liar mencapai puluhan juta,” terangnya dengan nada heran.

Ditambahkan oleh Satria, walaupun pungutan itu mahal, namun antusias masyarakat menyekolahkan anaknya di sekolah negeri favorit sangat tinggi. Ia menilai bahwa tingginya antusias ini disebabkan oleh gengsi dari orang tua siswa. Di samping ingin mendapatkan kualitas pendidikan lebih baik, kebanyakan orang tua ingin agar anaknya dipandang pintar, cerdas, elit, dan berkelas. ”Faktor gengsilah yang menyebabkan orang tua berani bayar berapa pun diminta asal diterima di sekolah favorit itu,” ujarnya.

Menurut Toni, seharusnya orang tua bisa memberikan contoh yang baik pada anaknya. Mereka (orang tua siswa) tidak boleh melanggar aturan-aturan yang ditetapkan sekolah. Ia menyarankan agar orang tua tidak memaksakan anaknya diterima di sekolah kalau tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan sekolah yang bersangkutan. “Cari sekolah yang lain, dong. Yang sesuai dengan kemampuan anaknya, bukan malah tergiur mau membayar demi mendapatkan sekolah itu,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Putra menjelaskan bahwa jika model pungutan ini terus berlangsung, dikhawatirkan akan merugikan siswa yang pintar secara akademik. Putra menegaskan, lama-kelamaan jatah siswa pintar di sekolah favorit akan terus berkurang bahkan bisa lenyap. Pasalnya, ia melihat ada kecenderungnya sekolah negeri favorit sekarang lebih mengutamakan orang tua siswa yang bisa bayar. “Kasian siswa pintar tetapi ekonomi orang tuanya lemah. Ke depannya, mereka pasti kecewa dan tidak percaya lagi terhadap kualitas sekolah negeri favorit tersebut,” sambungnya dengan ekspresi sedih.

Satria menambahkan bahwa pentingnya kerjasama masyarakat dan pemerintah untuk mengawasi masalah tersebut di atas. Ia mengharapkan pemerintah dan masyarakat untuk ikut mengontrol jalannya penerimaan siswa baru. “Mulai dari penerimaan siswa baru, karena biasanya pungutan itu menjamur pada awal tahun ajaran baru,” terangnya. (Mela)

0 komentar:

Posting Komentar