Senin, 03 Mei 2021

 

Mendisiplinkan Siswa, Guru Tak Mesti Membully

 

Foto: kompasiana.com
Kasus pembullyan di dunia pendidikan (sekolah) tidak hanya pelakunya dari oknum pelajar. Namun, pembullyan juga sering dilakukan oleh oknum guru di sekolah. Beberapa kasus ini bahkan sudah tersebar di dunia medsos. Sayangnya, sedikit orang yang menyadari hal ini. Rata-rata ortu, siswa, dan masyarakat menerima tindakan bully dari seorang guru dengan alasan mendidik atau mendisiplinkan siswa.

Putu Mia Laksmi membenarkan hal itu. Dirinya bersama teman-temannya pernah mengalami bully dari salah satu guru di sekolahnya. Namun, ia enggan menyebutkan nama guru tersebut. Laksmi menuturkan bahwa hingga sekarang beberapa guru masih menggunakan kata-kata umpatan negatif seperti bodoh, nakal, malas dan lain sebagainya. Di samping itu, beberapa guru juga melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya menakuti-nakuti atau mengancam. 

Akan tetapi, tidak ada satu pun siswa berani mengkritisi dan memviralkan (di dunia maya) tindakan bully yang dilakukan oleh gurunya. “Itulah istimewanya menjadi guru. Mereka dapat melakukan tindakan bully terhadap siswa dengan kewenangannya,” terang dara SMANSA yang kini duduk di bangku kelas IX ini.

Hal berbeda dikemukan oleh Made Suprapta Wibawa. Wibawa mengemukakan bahwa guru harus diberi kewenangan untuk mendidik, termasuk dengan cara-cara yang keras atau membully. Kalau tidak demikian, pria tinggi jangkung ini berkeyakinan bahwa siswa akan menjadi campah, tidak punya sopan santun, nakal dan tidak memiliki karakter baik. “Harus ada yang disegani dan ditakuti di sekolah. Guru harus ditiru dan digugu. Yakinlah apa yang dilakukan oleh guru, tujuannya pasti untuk kebaikan anak didiknya,” ucapnya dengan nada serius.

Lebih lanjut, Wibawa menjelaskan bahwa biasanya bully oleh guru dipicu oleh faktor siswa itu sendiri. Misalnya, siswa ribut, nakal, tidak mengerjakan tugas dengan baik, dan lain sebagainya. Karena itulah, ia membenarkan guru untuk mendidik siswa (walaupun dengan cara membully) agar siswa menjadi lebih baik lagi.

Namun, Komang Puspa Anggreni menentang pernyatan Wibawa. Menurutnya, guru harus sebisa mungkin menghindari diri dari sikap dan tindakan bully. Karena dia khawatir, suatu saat alasan mendidik dapat diselewengkan untuk berbuat apa saja terhadap siswa. “Nggak zaman deh, mendidik dengan cara-cara kekerasan atau membully. Itu cara-cara mendidik guru-guru model lama,” terang dara SMANSA berambut lurus ini.

Puspa menambahkan bahwa justru karena guru digugu dan ditiru itulah, haram hukumnya menggunakan cara-cara membully. Menurut Puspa, menjaga wibawa guru bukan dengan cara kekerasan. Guru harus meningkatkan profesionalismenya dengan cara mengajar dengan kreatif, inovatif, ramah, sabar, dan menyenangkan. “Tidak semua siswa dapat menerima bully dari guru. Karena bully itu akan menimbulkan perkembangan kurang baik bagi siswa,” lanjutnya.

Senada denga hal ini, Laksmi menambahkan bahwa tidak baik menjadikan siswa selalu sebagai biang kerok. Guru juga harus  menginstrospeksi diri. Karena, seringkali bully yang dilakukan guru disebabkan oleh guru itu sendiri. Mereka kaku, otoriter, emosional, dan kurang update. “Biasanya guru model-model begini, mudah sekali ngomel, ngeluaran kata-kata kasar atau caci makian. Bukannya menjadi lebih baik, siswa malah tumbuh menjadi pembangkang. Mestinya anak-anak harus dibimbing secara sabar!” ujarnya.

Oleh karena itu, Laksmi menginginkan guru dan siswa saling terbuka. Guru dan siswa semestinya boleh saling mengkritisi. Guru terbuka menerima kritik dari siswa. Sebaliknya, siswa juga harus siap dikritik oleh gurunya. “Jadi, sama-sama terbukalah, agar sebisa mungkin kelemahan-kelemahan yang memicu bully antara guru dan siswa dapat diminimalisir,” paparnya. (Sri Indrani)

 

0 komentar:

Posting Komentar