Sabtu, 01 Mei 2021

Pelajar Mencoret-coret Bendera Merah Putih: Ada Apa dengan Pendidikan Karakter di Sekolah?

Oleh

I Ketut Serawan


Rayakan Kelulusan, Pelajar Coret-coret Bendera Merah Putih. Foto: JPNN.com


Selebrasi kelulusan di kalangan pelajar (SMA/ SMK) kerapkali mendapat sorotan miring dari publik. Pasalnya, para pelajar lebih gandrung merayakan kelulusan dengan aksi-aksi kurang positif, misalnya mencoret-coret seragam dan konvoi di jalanan. Bahkan tahun ini, sejumlah pelajar mengekspresikannya dengan mencoret-coret bendera merah putih. Aksi tak terpuji ini diunggah oleh pelaku melalui instagram, yang dibagikan akun facebook Maher Wazi (5/5/18). Unggahan ini menjadi viral dan menuai beragam tanggapan dari para nitizen.

Mayoritas nitizen mengecam tindakan para pelajar ini karena dianggap melecehkan simbol negara. Nitizen geram dan berharap pelaku diproses serta diberikan pembinaan moral yang lebih intensif. Dalam konteks pembinaan moral inilah, sekolah mendapat serangan bertubi-tubi dari para nitizen. Mereka menilai bahwa sekolah mandul dalam membangun pendidikan karakter pelajar. Tudingan ini harus dimaklumi mengingat publik memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap peranan sekolah dalam membangun karakter.

 

Faktor Pemicu

Sebagai lembaga strategis, sekolah memang mempunyai tanggung jawab besar terhadap pendidikan karakter pelajar. Namun, publik juga harus realistis melihat kondisi pendidikan karakter di sekolah yang cenderung teoritis. Pendidikan karakter diformat untuk menjajal ranah kognitif siswa. Produknya adalah bagaimana siswa mengerti dan memahami sesuatu. Bukan bagaimana siswa berbuat, merealisasikan, membiasakan, dan menghasilkan sesuatu.

Para guru piawai memberikan pendidikan karakter secara konsep dan teoritis. Akan tetapi, para pelajar kurang diberi ruang dalam berlatih dan mengekspresikan diri secara nyata. Coba kita lihat pendidikan agama, budi pekerti, dan PKn misalnya. Pembelajarannya berorientasi kepada proyek bagaimana menghabiskan materi, daripada capaian praktiknya. Kalau toh ada praktiknya, hanya menyentuh tataran formalitas seperti pembelajaran praktik tata cara sembahyang, membaca alkitab, dan lain sebagainya. Namun, tidak menyentuh praktik dari esensi ajaran beragama (implementasi cinta kasih, toleransi misalnya).

Zona teoritis inilah yang mempolakan pelajar mengutamakan capaian angka-angka akademis. Sebaliknya, mereka tidak peduli terhadap kebermaknaan dan kebermanfaatan nyata dari sebuah pendidikan bagi kehidupan sehari-hari. Polarisasi ini juga menggerogoti orang tua, masyarakat, sekolah, dan termasuk dunia kerja. Segi-segi akademis seseorang seolah-olah diberhalakan. Ia terlalu bernilai istimewa, mengalahkan aspek-aspek lain termasuk karakter (akhlak).

Baru memasuki kurikulum 2013, derajat pendidikan karakter diposisikan menjadi lebih istimewa. Nilai kepribadian (karakter) dijadikan palu untuk menentukan kenaikan dan kelulusan siswa. Siswa dinyatakan naik kelas atau lulus, apabila meraih sejumlah nilai kepribadian minimal dengan predikat baik (tidak boleh ada cukup), walaupun rata-rata nilai akademiknya tinggi.

Meskipun demikian, tetap tidak mengubah metodologi sekolah, cara pandang orang tua, masyarakat, dan kebutuhan lapangan tentang pentingnya pendidikan karakter. Kondisi ini diperburuk lagi oleh eksistensi sekolah-sekolah lain seperti medsos, media massa, lingkungan masyarakat, dan negara. Perannya tidak bisa diremehkan dalam membentuk karakter pelajar. Karena pelajar menganggap medsos, media massa, lingkungan sosial dan negara  sebagai panggung realitas. Panggung tempat sesungguhnya dalam mempraktikan pendidikan karakter.

Panggung-panggung realitas itu akan menjadi cerminan bagi pelajar dalam bersikap dan bertindak. Problematikanya ialah ketika realitas-realitas yang diangkat bernilai negatif, lalu pelajar menirukannya. Kasus pencoretan bendera merah putih tidak mungkin muncul tanpa adanya stimulus fakta sebelumnya. Bisa jadi kasus pencoretan bendera ini berkolerasi dengan suguhan medsos dan televisi yang sering menayangkan kasus pembakaran, pencoretan, perobekan hingga penginjak-nginjakan bendera negara tanpa sensor oleh para demonstran untuk alasan mengecam atau mengutuk.

Tren pelecehan simbol-simbol negara oleh pelajar juga tidak lepas dari krisis keteladanan publik figur, terutama para politikus dan tokoh agama. Sejumlah tokoh politikus dan tokoh agama baik secara pribadi maupun melalui pendukungnya, pernah pula menghina simbol-simbol negara dan ideologi negara. Sayangnya, para pelaku tidak mendapatkan sanksi yang setimpal dengan perbuatannya. Malah pada beberapa kasus,  pelaku-pelaku pelanggaran itu diberhentikan proses hukumnya dengan berbagai dalih. Konteks fakta-fakta inilah yang membuat pelajar menjadi galau terhadap arah pendidikan karakter.

 

Menyelamatkan Karakter Pelajar

Publik sepatutnya tidak meragukan konsep (teori) pendidikan karakter di sekolah. Karena sekolah pasti memberikan konsep pendidikan karakter secara benar dan optimal. Namun, harus diakui bahwa sekolah belum maksimal mempraktikannya, karena keterbatasan ruang implementasi. Medsos, lingkungan keluarga, media massa, masyarakat dan negara merupakan sekolah yang strategis sebagai praktik pendidikan karakter sesungguhnya bagi pelajar.

Medsos (sebagai ruang pelaporan dan tren perilaku), media massa (pelaporan),  masyarakat (pelaku), dan negara (regulator/ eksekutor), memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membangun karakter pelajar. Keempat lingkungan implementasi ini memposisikan pelajar sebagai saksi harmonisasi antara harapan dan kenyataan. Semakin tinggi kadar kesesusaian harapan dan kenyataan dalam tampilan realitas, semakin baik pula pengaruhnya bagi pendidikan karakter pelajar. Sebaliknya, semakin rendah kesesuaian harapan dan kenyataan dalam realitas, maka semakin kurang baik capaian pendidikan karakter bagi pelajar. Jadi, kadar karakter pelajar sangat dipengaruhi oleh frekuensi kualitas realitas yang ditampilkan.  

Kuatnya pengaruh lingkungan luar sekolah formal tidak dapat dilepaskan dari aspek kedekatan, kemenarikan dan kompleksitas kebermanfaatannya bagi pelajar. Contoh paling nyata adalah medsos. Medsos sangat dekat dan menjadi candu bagi pelajar. Hal ini dibuktikan dengan fakta ketergantungan pelajar dengan gudget. Pelajar memanfaatkan jasa gudget dengan berbagai kebutuhan secara praktis dan efisien mulai dari gaya, hiburan, pendidikan, komunikasi, belanja dan lain sebagainya. Kondisi inilah yang menyebabkan pelajar lebih percaya dan mengandalkan peran gudget dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Untuk keoptimalan pendidikan karakter pelajar, sinergi positif antara lingkungan medsos, media massa, masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan. Semuanya harus memberikan kontribusi positif lewat penerimaan, pengkondisian, dan tampilan realitas-realitas yang edukatif. Contoh kecil misalnya, ketika pemerintah membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai wujud antisipasi atas merosotnya loyalitas berideologi pancasila, semua pihak mestinya mendukung. Baik lingkungan medsos, media massa, masyarakat dan terutama sekolah mestinya bersatu padu mengawal efisiensi dan kebermanfaatan program ini. Sehingga ke depan, ada contoh harmonisasi harapan dan kenyataan yang dijadikan cerminan bagi pelajar.

Jadi, kurang etis rasanya jika serangan terhadap produk pendidikan karakter pelajar hanya dialamatkan kepada sekolah formal saja. Publik sepatutnya introspeksi diri terhadap ruang-ruang lain yang dapat dijadikan keteladanan bagi pelajar. Karena pendidikan karakter bukan soal teori-teori kebenaran yang semu. Pendidikan karakter membutuhkan ruang praktik dan figur keteladanan (moral) hidup. Oleh karena itu, moral medsos, moral media massa, moral lingkungan sosial dan moral pemerintah/ negara sangat dibutuhkan jika ingin menyelamatkan pendidikan karakter pelajar. (Penulis adalah guru swasta di Denpasar)

0 komentar:

Posting Komentar