Selasa, 04 Mei 2021

 

  

Cerdas Menyikapi Hoax Erupsi Gunung Agung

Oleh

Ni Ketut Tira Medani



Foto: Phinemo.com
Hoax memang sangat menyebalkan dan tidak pandang bulu. Sekali saja ada berita bohong tersebar secara viral, bisa menyebabkan kerusakan yang sangat parah. Setiap ada peristiwa terbaru, medsos pun langsung dijejali oleh foto-foto dan video hoax. Tidak terkecuali sekarang, saat Gunung Agung naik status ke level 'awas' dan berita evakuasi pun mulai meluas. Secara bersamaan pula foto, video, serta tautan mulai dibumbui dengan  kebohongan yang  berusaha merebut perhatian lewat berbagai media sosial. Dengan diserangnya hoax ini masyarakat Karangasem menjadi sangat panik.

Beredarnya berita hoax yang kini marak di media sosial memicu keresahan serta kepanikan masyarakat Bali, khususnya bagi para penduduk yang berada di radius 9-12 km dari puncak Gunung  Agung atau dikenal dengan zona berbahaya. Zona berbahaya yang termasuk itu ada 27 desa dari 78 desa di Karangasem. Mereka tentu merasa panik hingga  belum sempat membereskan barang-barang yang akan mereka bawa dan pasti ada yang ketinggalan.

Belum lama ini, dunia maya dihebohkan dengan sebuah video yang diunggah di youtube yang mengabarkan “Gunung Agung meletus dahsyat beberapa saat lalu”. Video itu menayangkan  seolah-olah Gunung Agung sudah meletus. Dalam video tersebut diperlihatkan Gunung Agung telah mengeluarkan lava pijar dan menyemburkan awan panas. Padahal video tersebut bukan video Gunung Agung, namun video Gunung Sinabung yang meletus.  

Orang-orang  cenderung lebih percaya dengan informasi yang beredar di medsos, terlebih lagi jika pengirim pesan itu adalah orang dekat. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan penebar hoax untuk menebar kepanikan. Hoax  tadi merembet ke berbagai format media sosial dan memicu kegaduhan yang tidak perlu. Akibatnya, di malam yang sama Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani mengeluarkan keterangan untuk menegaskan bahwa kabar yang beredar  tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Selain merugikan masyarakat, hoax yang mengatakan Gunung Agung  terkesan menakutkan itu juga merugikan bagi pengusaha travel agent di Bali. Mereka mengungkapkan bahwa berita tentang Gunung Agung memang terlalu dibesar-besarkan. Jika berita ini tidak segera diantasipasi, maka pariwisata di Bali dipastikan terganggu.

Sebenarnya yang ditakuti wisatawan jika suatu saat Gunung Agung benar-benar meletus, mereka tidak bisa kembali ke negaranya sesuai waktu yg diharapkan, karena penerbangan saat itu pasti akan ditutup. Tetapi tidak, karena sudah disiapkan 9 bandara untuk mengantisipasi kepulangan wisatawan jika Gunung Agung benar-benar meletus.

Oleh sebab itu, kita harus pandai menangkal berita yang tidak benar tersebut agar tidak mudah dipercaya oleh publik. Masyarakat pun diminta bijak untuk menggunakan media sosial dan saling berbagi informasi.

0 komentar:

Posting Komentar