Kamis, 27 Mei 2021

 

Merapi Lava Tour: Adventure Lereng Gunung, Menikmati Puing Alam, dan Memacu Andrenalin 

Off-road dan momen basah-basahan di Kalikuning

“Bruum…Bruuum…Bruuum!” Bunyi mesin mobil jeep memekakkan telinga. Gerimis tipis yang sempat turun, tiba-tiba lenyap. Mungkin ngeri kali, ya! Takut melihat 30-an mobil offroad (jenis jeep Willys buatan Amerika) dari berbagai warna dan model, membentuk barisan seperti hendak berkonvoi. Entah untuk merayakan euforia kemenangan atau hendak menggelar kampanye.

Perasaanku berkecamuk. Deg-degan, tegang, gugup, takut, khawatir, ngeri, penasaran, dan senang bercampur jadi satu. Maklum, ini kali pertama aku melakukan adventure. Petualangan yang sudah lama aku dambakan.

Kali ini, bersama 120-an teman-teman sekolahku (plus 10 guru pendamping), aku melakukan adventure di lereng Gunung Merapi (GM), Yogyakarta. Minggu (06/10/2019), sekitar pukul 11.00 WIB, rombongan kami melakukan persiapan di basecamp, kaki GM. Kami tertahan oleh celoteh pemandu pariwisata setempat, sambil menggenakan helm dan menutup mulut hidung kami dengan masker. Karena mobil yang kami tumpangi tidak beratap, alias terbuka.

Puluhan jeep yang kami tumpangan sudah tak sabar melaju. Sudah hampir 30 menit, para sopir menginjak gas dalam-dalam. Mereka tak sabar untuk melaju. Sama seperti yang Kurasakan. “Ayooo…Tancap, Pak Sopir!” teriak teman-temanku spontan dan kompak.

Rombongan kami lalu melaju melewati tanjakan agak mulus. Namun, tak lama kemudian tubuh kami mulai terguncang. Kami melewati jalanan setapak berdebu dan penuh batu. Kami menerobos, seperti pasukan Pandawa atau Korawa yang hendak menuju medan Kurusetra. Mata kami tak berkedip menikmati kampung Kinahrejo yang luluhlantak, bekas hunian warga yang rubuh dan tak berpenghuni.

Sayup-sayup Aku mendengar suara sopir. Ia berbicara sambil menunjuk-nunjuk di sebelah kiri jalan (area Kaliadem), ada satu lahan ditumbuhi pohon bambu dan rerumputan hijau. Konon itu merupakan makam masal, korban erupsi GM tahun 2010.  Aku melihat sepintas lalu, karena jeep yang aku tumpangi melaju dengan cepat.

Deru mesin jeep terus membelah jalan-jalan setapak. Sementara, kepulan debu mulai beterbangan bercampur bersatu bersama tubuh kami. Seluruh badan kami “mengabu”, mulai dari ujung helm hingga ujung kaki. Namun, teriakan penuh keseruan tak juga berhenti, seperti yel yel perjuangan. “Yahuuu….!” teriak kami menyeruak, memecah siang berdebu.

Rute Adventure

Hingga di sebuah ketinggian, para sopir membanting setir kemudian mematikan mesin mobil jeepnya. Kami diminta turun, lalu digiring menuju sebuah puing-puing bangunan. Pemandu lokal menyebutnya dengan nama Museum Sisa Hartaku. “Museum yang sederhana,” pikirku. Di sini aku melihat puing-puing benda erupsi yang tertata, seperti tulang belulang sapi yang utuh, pakaian, peralatan rumah tangga, mebel, motor, foto momen erupsi, dan lain sebagainya.

Usai menikmati Museum Sisa Hartaku, aku dan rombongan berlarian menuju jeep yang kami tumpangi. Aku lihat para sopir sudah stand by hendak melaju kembali. Aku dan teman-teman melompat naik ke atas mobil. Kata pemandu, Kami akan melanjutkan perjalanan kedua menuju Batu Alien.

Ketika satu mobil melaju, jeep lainnya tidak mau kalah. Kami melaju bergerombol seperti balapan. Kami berpacu sambil saling mendahului (menyalip). Para sopir yang andal itu seolah-olah tidak mempedulikan penumpang. Mereka menginjak gas dengan kencang di atas jalan yang penuh dengan timbunan material vulkanik (pasir), kerikil dan batu-batuan berukuran besar yang dimuntahkan dari perut GM.

Tubuh Kami hampir terpental, terlempar ke luar mobil. Aku cepat-cepat berdiri, berpegangan kuat pada rangka jeep. Mobil yang Aku tumpangi seperti hendak nyungsep. Oleng ke kiri-kanan menghindari batu-batu besar di jalan. Sesekali, kepala mobil terangkat tinggi seperti kuda meringkik. “Wuuuu….!” Aku mengelus dada. Jantungku hampir copot.

Namun, petualangan belum selesai. Kami harus melaju. Melaju menuju yang Kami mau yaitu Batu Alien. Batu raksasa itu harus menghentikan sejenak perjalanan kami. Aku dan rombongan melompat turun, berlomba-lomba untuk segera melihat batu tersebut. Sebuah batu raksasa menancap di atas permukaan tanah. Menurut pemandu lokal, bongkahan Batu Alien ini berasal dari perut merapi yang terlempar. Batu itu seperti pahatan alami, memiliki dua mata, hidung, mulut, telinga, lengkap seperti alien. Batu besar ini ditemukan oleh warga pada tahun 2010 dan dijadikan salah satu komoditi pariwisata pada tahun 2011.

Puas menikmati Batu Alien, kami berebutan naik ke jeep lagi. “Let’s go, Pak Sopir!” Pak sopir menuruni jalan curam pendek. Kemudian, memacu jeepnya yang bermandikan debu pasir. Matahari bersinar terik persis di kepalaku. Namun, perjalanan belum usai. Jeep yang kami tumpangi terus melaju, menerjang bebatuan, menghindari lubang-lubang menganga, dan sesekali standing. Ya, ampun! Rupanya perjalananan menuju Bunker Kaliadem lebih terjal dan menanjak. Tidak hanya itu, bongkahan-bongkahan batu besar berserakan di jalanan. “Awasss….!” Teriak temanku. Mobil jeep yang Aku tumpangi seperti plane lepas landas, terbang tak menyentuh daratan.

Kombinasi jalan berlubang dan bongkahan batu, mengocok perut, mengguncang tubuh, dan mengguncang nyali kami. Namun, kami tak gentar. Kami berteriak-teriak kegirangan, sambil menikmati puing-puing hasil erupsi GM. Bentangan kali kering di sebelah kanan kami, bergelimpangan material pasir, kerikil, dan bongkahan bebatuan hitam. Sementara di kiri, merupakan ladang yang kosong, ditumbuhi rumput liar dan beberapa gelimpangan batu besar.

Kami harus berhenti ketika puncak GM tampak dekat dan jelas. Aku lihat puncak itu dikelilingi kabut tebal. Kami turun dari jeep menuju Bunker Kaliadem. Kami harus menaiki anak tangga untuk memasuki area Bunker Kaliadem, benteng perlindungan warga dari awan panas. Tahun 2010, Bunker Kaliadem tak mampu melindungan puluhan nyawa warga Kinahrejo. Karena lelehan lava GM menimbun dan menembus pintu bunker serta menewaskan semua warga yang berlindung di dalamnya, termasuk para relawan. Konon, bunker ini menyimpan misteri sekarang. Menurut berbagai informasi, sering terdengar jeritan tangis di tempat ini. Iiiih, serem!

Dari titik bunker ini, kami juga menikmati betapa gagahnya GM berdiri tegak, diselimuti kabut tebal.  Namun, di titik Kami berdiri, hamparan tampak gersang dan banyak bebatuan vulkanik. Kami tak melewati momen itu. Kami memotret panoramanya, berselfie, dan foto bersama. “Di sini sejuk, indah, tetapi menakutkan,” ucap Eva Sagitariani merinding, salah satu teman rombongan kami.

Momen foto-foto menjadi cerita terakhir kami di Bunker Kaliadem. Selanjutnya, kami harus memutar menuruni lereng GM menuju Kalikuning. “Yesss…Offroad Kalikuning!” ucap Ida Ayu Tantri Krisnaputri, penuh semangat. Saking senang dan semangatnya, perjalanan menjadi tidak terasa. Kami melintasi jembatan, lalu mobil menukik ke bawah menuju sungai berisi aliran air cukup deras. Mobil jeep yang kami tumpangi menerobos dan membelah air tersebut. “Yuhuuuu…Yuhuuuu...” Teriak kami senang seperti paduan suara. Air terpental ke atas, lalu menyambar tubuh kami. Spontan tubuh kami basah kuyup.

“Ayoo, Om. Lagi, om! Please, Om!” pintaku bersama teman-teman. Jeep memutar lalu menabrak berkali-kali air sungai Kalikuning. Air terbang menghantam rambut, kepala, muka dan seluruh bagian tubuh kami. Momen basah-basahan itu merupakan trip terakhir adventure kami. Momen inilah yang paling mengesankan bagi kami.

Gimana? Kamu tertarik? Perlu kalian ketahui bahwa Merapi Lava Tour merupakan wisata berpetualang dengan jeep melihat sisi Merapi sesudah erupsi. Paket wisata ini muncul setelah GM meletus hebat tahun 2010, yang menewaskan warga Desa Kinahrejo, relawan, termasuk juru kunci GM yaitu Mbah Marijan. Dampak erupsi yang berantakan inilah yang justru dikemas menjadi paket pariwisata.

Merapi Lava Tour dengan kenderaan Jeep terbagi dalam tiga rute pilihan yakni short (1,5 jam), medium (2,5 jam), dan long (4-5 jam). Tur rute pendek dengan Jeep berisi maksimal 4 orang dewasa dengan harga rental Rp 350.000, sementara untuk medium Rp 450.000 dan untuk long Rp 600.000.

Nah, kami memilih Merapi Tour By Jeep Medium Track dengan rute Museum Sisa Hartaku, Batu Alien, Bunker Kaliadem dan Offroad di Kali Kuning. Kegiatan offroad ini merupakan rangkain hari ke-3 dari kegiatan karya wisata kami (berlangsung 5 hari, 4-7/10/19). Sebelumnya, 1 hari Kami menikmati tour di wilayah Malang yaitu tirta yatra ke Pura Giri Arjuno, Wisata Desa Pujon Kidul, menikmati wahana permainan di Jatim Park 1 Malang dan Museum Angkut (5/10/19). Hari keempat, Kami berkunjung ke pabrik Gula PT Madu Baru (Madukismo), Candi Borubudur, Museum Dirgantara dan Candi Prambanan (6/10/19).

Menurut I Made Ardana, kegiatan karya wisata tahun ini merupakan yang terunik sepanjang sejarah. Pasalnya, ini tour yang pertama kali dikemas dengan adventure. “Karya wisata tahun ini paling unik dan menarik. Ada objek wahana mainan, objek bersejarah, tirta yatra, dan adventure. Pokoknya paling komplit, deh,” ujar pendamping, guru MIPA Ceedha, yang menjabat sebagai ketua panitia tour ini.

I Ketut Serawan (pendamping lain, juga sebagai sekretaris tour) juga menambahkan bahwa tour atau karya wisata tahun inilah yang paling berkesan dan berkualitas. “Kemasan acara tournya betul-betul menyentuh ekspektasi anak-anak dan bermanfaat,” ujarnya.

Serawan juga berharap agar program ini tetap berlangsung setiap tahun, dengan ragam kegiatan yang lebih variatif, lebih berkualitas dan lebih bermanfaat. “Karya wisata ini penting banget. Manfaatnya mungkin lebih besar dibandingkan dengan belajar “penuh doktrin-doktrin teori” di dalam kelas,” tutupnya. (Maica)  Editor: I Ketut Serawan

0 komentar:

Posting Komentar