Tampilkan postingan dengan label Rubrik-rubrik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rubrik-rubrik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Mei 2021

 

Merapi Lava Tour: Adventure Lereng Gunung, Menikmati Puing Alam, dan Memacu Andrenalin 

Off-road dan momen basah-basahan di Kalikuning

“Bruum…Bruuum…Bruuum!” Bunyi mesin mobil jeep memekakkan telinga. Gerimis tipis yang sempat turun, tiba-tiba lenyap. Mungkin ngeri kali, ya! Takut melihat 30-an mobil offroad (jenis jeep Willys buatan Amerika) dari berbagai warna dan model, membentuk barisan seperti hendak berkonvoi. Entah untuk merayakan euforia kemenangan atau hendak menggelar kampanye.

Perasaanku berkecamuk. Deg-degan, tegang, gugup, takut, khawatir, ngeri, penasaran, dan senang bercampur jadi satu. Maklum, ini kali pertama aku melakukan adventure. Petualangan yang sudah lama aku dambakan.

Kali ini, bersama 120-an teman-teman sekolahku (plus 10 guru pendamping), aku melakukan adventure di lereng Gunung Merapi (GM), Yogyakarta. Minggu (06/10/2019), sekitar pukul 11.00 WIB, rombongan kami melakukan persiapan di basecamp, kaki GM. Kami tertahan oleh celoteh pemandu pariwisata setempat, sambil menggenakan helm dan menutup mulut hidung kami dengan masker. Karena mobil yang kami tumpangi tidak beratap, alias terbuka.

Puluhan jeep yang kami tumpangan sudah tak sabar melaju. Sudah hampir 30 menit, para sopir menginjak gas dalam-dalam. Mereka tak sabar untuk melaju. Sama seperti yang Kurasakan. “Ayooo…Tancap, Pak Sopir!” teriak teman-temanku spontan dan kompak.

Rombongan kami lalu melaju melewati tanjakan agak mulus. Namun, tak lama kemudian tubuh kami mulai terguncang. Kami melewati jalanan setapak berdebu dan penuh batu. Kami menerobos, seperti pasukan Pandawa atau Korawa yang hendak menuju medan Kurusetra. Mata kami tak berkedip menikmati kampung Kinahrejo yang luluhlantak, bekas hunian warga yang rubuh dan tak berpenghuni.

Sayup-sayup Aku mendengar suara sopir. Ia berbicara sambil menunjuk-nunjuk di sebelah kiri jalan (area Kaliadem), ada satu lahan ditumbuhi pohon bambu dan rerumputan hijau. Konon itu merupakan makam masal, korban erupsi GM tahun 2010.  Aku melihat sepintas lalu, karena jeep yang aku tumpangi melaju dengan cepat.

Deru mesin jeep terus membelah jalan-jalan setapak. Sementara, kepulan debu mulai beterbangan bercampur bersatu bersama tubuh kami. Seluruh badan kami “mengabu”, mulai dari ujung helm hingga ujung kaki. Namun, teriakan penuh keseruan tak juga berhenti, seperti yel yel perjuangan. “Yahuuu….!” teriak kami menyeruak, memecah siang berdebu.

Rute Adventure

Hingga di sebuah ketinggian, para sopir membanting setir kemudian mematikan mesin mobil jeepnya. Kami diminta turun, lalu digiring menuju sebuah puing-puing bangunan. Pemandu lokal menyebutnya dengan nama Museum Sisa Hartaku. “Museum yang sederhana,” pikirku. Di sini aku melihat puing-puing benda erupsi yang tertata, seperti tulang belulang sapi yang utuh, pakaian, peralatan rumah tangga, mebel, motor, foto momen erupsi, dan lain sebagainya.

Usai menikmati Museum Sisa Hartaku, aku dan rombongan berlarian menuju jeep yang kami tumpangi. Aku lihat para sopir sudah stand by hendak melaju kembali. Aku dan teman-teman melompat naik ke atas mobil. Kata pemandu, Kami akan melanjutkan perjalanan kedua menuju Batu Alien.

Ketika satu mobil melaju, jeep lainnya tidak mau kalah. Kami melaju bergerombol seperti balapan. Kami berpacu sambil saling mendahului (menyalip). Para sopir yang andal itu seolah-olah tidak mempedulikan penumpang. Mereka menginjak gas dengan kencang di atas jalan yang penuh dengan timbunan material vulkanik (pasir), kerikil dan batu-batuan berukuran besar yang dimuntahkan dari perut GM.

Tubuh Kami hampir terpental, terlempar ke luar mobil. Aku cepat-cepat berdiri, berpegangan kuat pada rangka jeep. Mobil yang Aku tumpangi seperti hendak nyungsep. Oleng ke kiri-kanan menghindari batu-batu besar di jalan. Sesekali, kepala mobil terangkat tinggi seperti kuda meringkik. “Wuuuu….!” Aku mengelus dada. Jantungku hampir copot.

Namun, petualangan belum selesai. Kami harus melaju. Melaju menuju yang Kami mau yaitu Batu Alien. Batu raksasa itu harus menghentikan sejenak perjalanan kami. Aku dan rombongan melompat turun, berlomba-lomba untuk segera melihat batu tersebut. Sebuah batu raksasa menancap di atas permukaan tanah. Menurut pemandu lokal, bongkahan Batu Alien ini berasal dari perut merapi yang terlempar. Batu itu seperti pahatan alami, memiliki dua mata, hidung, mulut, telinga, lengkap seperti alien. Batu besar ini ditemukan oleh warga pada tahun 2010 dan dijadikan salah satu komoditi pariwisata pada tahun 2011.

Puas menikmati Batu Alien, kami berebutan naik ke jeep lagi. “Let’s go, Pak Sopir!” Pak sopir menuruni jalan curam pendek. Kemudian, memacu jeepnya yang bermandikan debu pasir. Matahari bersinar terik persis di kepalaku. Namun, perjalanan belum usai. Jeep yang kami tumpangi terus melaju, menerjang bebatuan, menghindari lubang-lubang menganga, dan sesekali standing. Ya, ampun! Rupanya perjalananan menuju Bunker Kaliadem lebih terjal dan menanjak. Tidak hanya itu, bongkahan-bongkahan batu besar berserakan di jalanan. “Awasss….!” Teriak temanku. Mobil jeep yang Aku tumpangi seperti plane lepas landas, terbang tak menyentuh daratan.

Kombinasi jalan berlubang dan bongkahan batu, mengocok perut, mengguncang tubuh, dan mengguncang nyali kami. Namun, kami tak gentar. Kami berteriak-teriak kegirangan, sambil menikmati puing-puing hasil erupsi GM. Bentangan kali kering di sebelah kanan kami, bergelimpangan material pasir, kerikil, dan bongkahan bebatuan hitam. Sementara di kiri, merupakan ladang yang kosong, ditumbuhi rumput liar dan beberapa gelimpangan batu besar.

Kami harus berhenti ketika puncak GM tampak dekat dan jelas. Aku lihat puncak itu dikelilingi kabut tebal. Kami turun dari jeep menuju Bunker Kaliadem. Kami harus menaiki anak tangga untuk memasuki area Bunker Kaliadem, benteng perlindungan warga dari awan panas. Tahun 2010, Bunker Kaliadem tak mampu melindungan puluhan nyawa warga Kinahrejo. Karena lelehan lava GM menimbun dan menembus pintu bunker serta menewaskan semua warga yang berlindung di dalamnya, termasuk para relawan. Konon, bunker ini menyimpan misteri sekarang. Menurut berbagai informasi, sering terdengar jeritan tangis di tempat ini. Iiiih, serem!

Dari titik bunker ini, kami juga menikmati betapa gagahnya GM berdiri tegak, diselimuti kabut tebal.  Namun, di titik Kami berdiri, hamparan tampak gersang dan banyak bebatuan vulkanik. Kami tak melewati momen itu. Kami memotret panoramanya, berselfie, dan foto bersama. “Di sini sejuk, indah, tetapi menakutkan,” ucap Eva Sagitariani merinding, salah satu teman rombongan kami.

Momen foto-foto menjadi cerita terakhir kami di Bunker Kaliadem. Selanjutnya, kami harus memutar menuruni lereng GM menuju Kalikuning. “Yesss…Offroad Kalikuning!” ucap Ida Ayu Tantri Krisnaputri, penuh semangat. Saking senang dan semangatnya, perjalanan menjadi tidak terasa. Kami melintasi jembatan, lalu mobil menukik ke bawah menuju sungai berisi aliran air cukup deras. Mobil jeep yang kami tumpangi menerobos dan membelah air tersebut. “Yuhuuuu…Yuhuuuu...” Teriak kami senang seperti paduan suara. Air terpental ke atas, lalu menyambar tubuh kami. Spontan tubuh kami basah kuyup.

“Ayoo, Om. Lagi, om! Please, Om!” pintaku bersama teman-teman. Jeep memutar lalu menabrak berkali-kali air sungai Kalikuning. Air terbang menghantam rambut, kepala, muka dan seluruh bagian tubuh kami. Momen basah-basahan itu merupakan trip terakhir adventure kami. Momen inilah yang paling mengesankan bagi kami.

Gimana? Kamu tertarik? Perlu kalian ketahui bahwa Merapi Lava Tour merupakan wisata berpetualang dengan jeep melihat sisi Merapi sesudah erupsi. Paket wisata ini muncul setelah GM meletus hebat tahun 2010, yang menewaskan warga Desa Kinahrejo, relawan, termasuk juru kunci GM yaitu Mbah Marijan. Dampak erupsi yang berantakan inilah yang justru dikemas menjadi paket pariwisata.

Merapi Lava Tour dengan kenderaan Jeep terbagi dalam tiga rute pilihan yakni short (1,5 jam), medium (2,5 jam), dan long (4-5 jam). Tur rute pendek dengan Jeep berisi maksimal 4 orang dewasa dengan harga rental Rp 350.000, sementara untuk medium Rp 450.000 dan untuk long Rp 600.000.

Nah, kami memilih Merapi Tour By Jeep Medium Track dengan rute Museum Sisa Hartaku, Batu Alien, Bunker Kaliadem dan Offroad di Kali Kuning. Kegiatan offroad ini merupakan rangkain hari ke-3 dari kegiatan karya wisata kami (berlangsung 5 hari, 4-7/10/19). Sebelumnya, 1 hari Kami menikmati tour di wilayah Malang yaitu tirta yatra ke Pura Giri Arjuno, Wisata Desa Pujon Kidul, menikmati wahana permainan di Jatim Park 1 Malang dan Museum Angkut (5/10/19). Hari keempat, Kami berkunjung ke pabrik Gula PT Madu Baru (Madukismo), Candi Borubudur, Museum Dirgantara dan Candi Prambanan (6/10/19).

Menurut I Made Ardana, kegiatan karya wisata tahun ini merupakan yang terunik sepanjang sejarah. Pasalnya, ini tour yang pertama kali dikemas dengan adventure. “Karya wisata tahun ini paling unik dan menarik. Ada objek wahana mainan, objek bersejarah, tirta yatra, dan adventure. Pokoknya paling komplit, deh,” ujar pendamping, guru MIPA Ceedha, yang menjabat sebagai ketua panitia tour ini.

I Ketut Serawan (pendamping lain, juga sebagai sekretaris tour) juga menambahkan bahwa tour atau karya wisata tahun inilah yang paling berkesan dan berkualitas. “Kemasan acara tournya betul-betul menyentuh ekspektasi anak-anak dan bermanfaat,” ujarnya.

Serawan juga berharap agar program ini tetap berlangsung setiap tahun, dengan ragam kegiatan yang lebih variatif, lebih berkualitas dan lebih bermanfaat. “Karya wisata ini penting banget. Manfaatnya mungkin lebih besar dibandingkan dengan belajar “penuh doktrin-doktrin teori” di dalam kelas,” tutupnya. (Maica)  Editor: I Ketut Serawan

Selasa, 04 Mei 2021

 

Sekilas Tentang Gunung Berapi


Gunung berapi adalah sebuah gunung yang memiliki kawah yang berisi magma dari dalam perut bumi.  Kata "gunung berapi" berasal dari nama Romawi yaitu "Vulcan" yang berarti dewa api Romawi. Gunung berapi tergolong aktif, tidak aktif, atau punah. Tergantung pada jumlah aktivitas vulkanik yang terjadi.

"Aktif" berarti ada aktivitas rutin. "Tidak aktif" berarti ada aktivitas tapi saat ini sepi. "Punah" berarti sudah lama sekali sejak letusan terakhir yang sepertinya tidak akan pernah meletus lagi. Gunung berapi yang aktif dapat sewaktu-waktu mengeluarkan magma (meletus) yang terkandung di dalam perut bumi.

Indonesia berada pada pertemuan antara 3 lempeng besar yang terdiri dari dari 2 lempeng benua dan 1 lempeng samudera. Oleh karena itu, sangatlah wajar kalau tatanan tektonik Indonesia sangat kompleks.

Di bagian barat sampai selatan Indonesia merupakan daerah zona subduksi yang juga merupakan jalur gunung api. Di Indonesia terdapat sekitar 129 buah gunung berapi yang masih aktif dan merentang sepanjang 700 KM.

Gunung meletus, terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi.  Dari letusan-letusan seperti inilah gunung berapi terbentuk.

Gunung berapi bisa menghasilkan gas vulkanik beracun, lava dan aliran pasir serta batu panas, lahar, tanah longsor, abu letusan, awan panas, gempa bumi, dan bahkan tsunami.

Ada sekitar 1.900 gunung berapi aktif di bumi. Ini berarti mereka baru saja meletus atau mereka mungkin akan meletus. Beberapa gunung berapi punah. Lebih dari 80 gunung api telah ditemukan di laut. Lava dari gunung berapi bisa mencapai suhu 2.000 derajat Fahrenheit. Gunung berapi juga bisa tumbuh dengan cepat. Meskipun beberapa gunung berapi bisa memakan waktu ribuan tahun untuk terbentuk, yang lain bisa tumbuh dalam semalam. (Katrina, diambil dari berbagai sumber)

 

  

Cerdas Menyikapi Hoax Erupsi Gunung Agung

Oleh

Ni Ketut Tira Medani



Foto: Phinemo.com
Hoax memang sangat menyebalkan dan tidak pandang bulu. Sekali saja ada berita bohong tersebar secara viral, bisa menyebabkan kerusakan yang sangat parah. Setiap ada peristiwa terbaru, medsos pun langsung dijejali oleh foto-foto dan video hoax. Tidak terkecuali sekarang, saat Gunung Agung naik status ke level 'awas' dan berita evakuasi pun mulai meluas. Secara bersamaan pula foto, video, serta tautan mulai dibumbui dengan  kebohongan yang  berusaha merebut perhatian lewat berbagai media sosial. Dengan diserangnya hoax ini masyarakat Karangasem menjadi sangat panik.

Beredarnya berita hoax yang kini marak di media sosial memicu keresahan serta kepanikan masyarakat Bali, khususnya bagi para penduduk yang berada di radius 9-12 km dari puncak Gunung  Agung atau dikenal dengan zona berbahaya. Zona berbahaya yang termasuk itu ada 27 desa dari 78 desa di Karangasem. Mereka tentu merasa panik hingga  belum sempat membereskan barang-barang yang akan mereka bawa dan pasti ada yang ketinggalan.

Belum lama ini, dunia maya dihebohkan dengan sebuah video yang diunggah di youtube yang mengabarkan “Gunung Agung meletus dahsyat beberapa saat lalu”. Video itu menayangkan  seolah-olah Gunung Agung sudah meletus. Dalam video tersebut diperlihatkan Gunung Agung telah mengeluarkan lava pijar dan menyemburkan awan panas. Padahal video tersebut bukan video Gunung Agung, namun video Gunung Sinabung yang meletus.  

Orang-orang  cenderung lebih percaya dengan informasi yang beredar di medsos, terlebih lagi jika pengirim pesan itu adalah orang dekat. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan penebar hoax untuk menebar kepanikan. Hoax  tadi merembet ke berbagai format media sosial dan memicu kegaduhan yang tidak perlu. Akibatnya, di malam yang sama Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani mengeluarkan keterangan untuk menegaskan bahwa kabar yang beredar  tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Selain merugikan masyarakat, hoax yang mengatakan Gunung Agung  terkesan menakutkan itu juga merugikan bagi pengusaha travel agent di Bali. Mereka mengungkapkan bahwa berita tentang Gunung Agung memang terlalu dibesar-besarkan. Jika berita ini tidak segera diantasipasi, maka pariwisata di Bali dipastikan terganggu.

Sebenarnya yang ditakuti wisatawan jika suatu saat Gunung Agung benar-benar meletus, mereka tidak bisa kembali ke negaranya sesuai waktu yg diharapkan, karena penerbangan saat itu pasti akan ditutup. Tetapi tidak, karena sudah disiapkan 9 bandara untuk mengantisipasi kepulangan wisatawan jika Gunung Agung benar-benar meletus.

Oleh sebab itu, kita harus pandai menangkal berita yang tidak benar tersebut agar tidak mudah dipercaya oleh publik. Masyarakat pun diminta bijak untuk menggunakan media sosial dan saling berbagi informasi.

 

I Putu Adit Aditya

Beda Kurikulum, Semangat Belajar Tetap Menyala


I Putu Adit Aditya
I Putu Adit Aditya adalah salah satu siswa korban erupsi Gunung Agung. Siswa asal SMP Negeri 3 Bebandem ini terpaksa harus pindah ke SMP Cipta Dharma Denpasar karena daerahnya masuk zona merah.  Meskipun beda kurikulum, ia tetap semangat untuk belajar.

Adit merupakan murid yang cukup pintar. Ia selalu mendapat peringkat 10 besar di sekolahnya. Urusan akademik, Adit tidak menemui kendala. Namun, semenjak pindah ke SMP Dharma, kegiatan akademik sedikit terganggu. Ia agak minder belajar di SMP Cipta Dharma. Persoalan bukn karena lingkungan baru, tetapi kurikulum disekolah sekarang sangat berbeda dengan kurikulum di sekolah asalnya. “Kurikulumnya beda banget. Aku sedikit grogi belajar,” ujar pria yang lahir pada tanggal 1 Oktober 2002 ini.

Kendati demikian, dirinya sangat bersemangat belajar karena adanya motivasi dari teman-teman di sekolah barunya. Tidak hanya teman-teman, para guru di SMP Cipta Dharma juga sangat memotivasi dirinya untuk giat belajar.”Tidak hanya siswanya, guru-guru di sini juga baik sekali. Mereka selalu ngedukung belajar saya. Inilah yang memotivasi untuk terus semangat belajar,” terang pria berzodia Libra ini.

Aktivitas Adit sebelum mengungsi yaitu membantu bibinya berjualan di kampung. Namun, semenjak mengungsi ia hanya bisa melakukan aktivitas seadanya, seperti memancing dan bermain ke pantai.

Saat ini, Adit mengungsi di perumahan Puri Candra Asri Blok G. Dia tinggal bersama ayah, ibu, dan 1 Adik laki-laki. Satu minggu belakangan, ayah dan adiknya sempat bolak balik ke kampong karena adiknya harus mengikuti Ulangan Tengah Semester (UTS).

Setelah belajar kurang lebih 2 minggu, kini Adit sudah akrab dengan teman-teman di SMP Cipta Dharma. Walau pun demikian, kadang-kadang ia merasa rindu dengan teman-teman di sekolah asalnya.  Namun berkat BBM, ia tetap bisa berkomunikasi dengan temannya.

Kini Adit hanya berharap semoga Gunung Agung cepat meletus, agar semua yang mengungsi segera balik kampong. “Aku sih pinginnya cepat meletus. Daripada kayak sekarang, tidak ada kepastian,” paparnya dengan nada sedih. (Shinta)           

 

SMP Cipta Dharma Beri Bansos

kepada Pengungsi Erupsi Gunung Agung

 

Penyerahan Bansos: Serawan (waka Humas) memberikan bansos secara simbolik kepada Puja (ketua Posko)

                    

SMP Cipta Dharma  menyerahkan bantuan sosial (bansos)  kepada pengungsi erupsi Gunung  Agung di Posko Banjar Perum Chandra Asri-Batubulan, Gianyar kemarin (26/9). Penyerahan seremonial itu dilakukan oleh Ketut Serawan, S.Pd (waka Humas SMP Cipta Dharma) kepada ketua posko Banjar Perum Chandra Asri pada  pukul 10.30 wita. Acara penyerahan disaksikan oleh ketua posko, puluhan pengungsi, 28 siswa (Osis) dan 3 guru SMP Cipta Dharma.

Total pengungsi yang berada di Banjar Perum Chandra Asri berjumlah 155 jiwa. Semuanya berasal dari Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem. Desa Duda merupakan salah satu daerah zona merah (zona berbahaya) yang ditetapkan oleh pemerintah.

Bantuan sosial yang diserahkan oleh pihak SMP Cipta Dharma berupa berbagai sembako, yaitu beras, mie instan, gula, teh, kopi, telur, minyak, alat MCK, dan biskuit kering. Bantuan ini sangat diapresiasi oleh pihak korban. “Kami mengucapkan terima atas kepedulian sekolah. Bantuan ini sangat meringankan kami selama di pengungsian,” terang salah warga pengungsi yang tidak mau menyebutkan namanya.

Senada dengan hal ini, A.A Ngurah Gede Puja Utama (ketua Posko Pengungsian Banjar Perum Chandra Asri) menyatakan bahwa dirinya mengacungi jempol atas tindakan sosial yang dilakukan SMP Cipta Dharma. Menurutnya, sekolah dianggap suskes menanamkan karakter sosial kepada siswa. “Bantuan ini membuktikan bahwa sekolah sukses membentuk karakter peduli sesama kepada para siswa,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ketut Serawan. Pria yang menjabat waka Humas ini mengatakan bahwa pembelajaran karakter tidak cukup hanya teori di sekolah. Ia menilai bahwa dengan praktek memberikan sumbangan jauh lebih berguna dibandingkan sebatas teori. “Pembelajaran karakter seharusnya lebih ke praktek, bukan teori-teori saja,” paparnya.

Di samping memberikan bantuan sembako dan alat MCK, SMP Cipta Dharma juga memberikan fasilitas pendidikan kepada 2 pengungsi yang berada di posko tersebut. (Tira)

 

Siswa Korban Erupsi Gunung Agung di SMP Cipta Dharma

Beda Kurikulum, Siswa Jadi Canggung

 

Wakil Kepsek SMP Cipta Dharma diapit siswa korban erupsi Gunung Agung. Dari kiri: Budi, Adit, Rai Yasa, Intan, Putri

Semenjak Gunung Agung ditetapkan ke dalam level waspada bulan September lalu, Dinas Pendidikan Provinsi Bali langsung mengeluarkan kebijakan agar semua sekolah (dengan radius terdekat) di Bali menerima siswa korban erupsi tanpa syarat. Himbauan ini langsung mendapat respon dari SMP Cipta Dharma. Hingga kini, tercatat 10 siswa korban erupsi (dari posko Banjar Perumahan Chandra Asri dan Posko Kesambi) diterima di SMP Cipta Dharma. Uniknya, hampir semua pelajar ini canggung bersekolah di SMP Cipta Dharma karena perbedaan kurikulum.

Menurut A.A. Ngurah Gede Puja Utama (Ketua Posko Banjar Perumahan Asri), kecanggungannya siswa pengungsi disebabkan oleh dua faktor yaitu lingkungan baru dan kurikulum baru. Jadi, kecanggungan siswa menjadi ganda. Di samping minder karena lingkungan baru, juga dipicu oleh perbedaan kurikulum. “Makanya, kami sangat hati-hati membujuk mereka agar mau bersekolah di sini. Kami memerlukan waktu seminggu lebih sebelum mereka memutuskan mau bersekolah di sini,” ujarnya dengan serius.

Hal berbeda dikemukakan oleh Dra. Ni Luh Susilawati, M.Pd. Menurutnya, perbedaan dua budaya (desa dan kota) juga menjadi faktor lain sebagai pemicu. Ia menjelaskan bahwa siswa di desa memiliki mental rata-rata pemalu dan canggung. Oleh karena itu, mereka harus terus dimotivasi agar cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. “Lupakan faktor-faktor penghambat itu. Tanggung jawab kita ialah menyelamatkan pendidikan mereka di tengah goncangan psikologis akibat dilanda bencana,” terang Kepala SMP Cipta Dharma ini dengan nada optimis.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sekolah “sementara” tugasnya menjaga semangat belajar si anak. Kalau hanya tinggal di pengungsian berbahaya bagi si anak. Takutnya, mereka kehilangan motivasi untuk belajar. “Menjaga motivasi belajar jauh lebih penting dibandingkan membenturkan mereka dengan alasan perbedaan kurikulum,” imbuhnya.

Senada dengan hal ini, Ketut Serawan S.Pd (Waka Humas SMP Cipta Dharma) mengatakan bahwa idealnya kurikulum dalam satu provinsi sebaiknya sama. Jika kenyataan berbeda seperti sekarang, kita cukup prihatin. Namun demikian, kita harus memaklumi keadaan ini karena dalam situasi darurat. “Cuma kasihan. Secara tak sengaja, perbedaan kurikulum menambah beban mental si anak,” paparnya.

Bercermin dari kasus ini, Serawan menyarankan agar ke depan pemerintah daerah (Bali) introspeksi diri dalam memutuskan sebuah kurikulum. Para pejabat dinas sebaiknya bermusyawarah secara matang demi keputusan yang bermanfaat bagi semua pihak. 

Hal serupa juga dikemukan oleh Susi. Ia mengakui bahwa tumben  sekarang ada kurikulum berbeda-beda dalam satu provinsi, yang membawa dampak keruwetan. Ke depan, ia berharap kasus perbedaan kurikulum ini tidak terulang lagi. “Kita tidak ingin ada perang politik tentang pendidikan di tingkat atas, yang justru merugikan siswa,” paparnya. (Gung Is)

 

Tidak Siswa, Orang Tua Pun Ikut MOS


Foto: Kompasiana.com
Masa Orientasi Siswa (MOS) identik dengan kesibukan. Karena pada masa-masa ini siswa baru disibukan dengan berbagai aktivitas mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan. Contoh kecil misalnya, siswa baru diminta untuk membawa barang-barang yang susah dicari dengan biaya yang cukup mahal. Akhirnya, tidak hanya siswa yang sibuk, orang tua pun ikut menjadi sibuk.

Itulah kesan pertama yang dilontarkan oleh Miko. Ia pernah mengalami masa-masa sulit ketika mengikuti MOS di Smansa Denpasar tahun lalu. Menurut pengakuanya, dirinya harus ke sana kemari mencari barang-barang yang diminta dari senior. Sampai-sampai ia harus melibatkan orang tua untuk mencari barang-barang tersebut. ”Saking sulit dan banyaknya, aku terpaksa suruh orang tua yang nyariin,” terang siswa bertampang keren ini, yang kini masih duduk di bangku kelas XII, Smansa Denpasar.

Lain lagi cerita dari Tiki, salah satu teman sekelas Miko. Sewaktu mengikuti MOS di Smansa Denpasar, ia bahkan hampir pasrah mencari barang-barang permintaan dari senior. Bahkan waktunya ketika itu hanya untuk mencari barang ke sana kemari. “Ya, jadinya orang tuaku juga ikut MOS karena ikut sibuk ke sana ke mari,” ujarnya sambil menggaruk-garuk kepala.

Mika menanggapi bahwa kesibukan-kesibukan saat MOS sebagai sebuah pendidikan. Menurutnya, awalnya memang terasa menyusahkan, tetapi hasilnya sangat bermanfaat bagi disiplin dan tanggung jawabnya. “Memang nyusahin, tapi sangat bermanfaat bagi kita,” ungkap siswa yang beda kelas dengan Miko dan Tiki.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Mika bahwa sebaiknya adik-adik kelasnya tidak berpikir negatif dengan kesusahan pada waktu mengikuti MOS. Ia berpesan agar siswa baru lebih bersabar mengikuti MOS, karena semuanya hanya sebagai ujian/ cobaan. Ditambahkan oleh Tiki, agar siswa baru tidak merasa keberatan apalagi sampai menaruh dendam dengan seniornya. “Semuanya demi mendidik anak-anak baru,” ungkapnya. (Sugik) 

 

MOS: Smansa Denpasar Dukung Ada Perploncoan

 

Foto: today.line.me
Jika mendengar istilah perploncoan dalam kegiatan MOS, masyarakat pasti berpikiran negatif. Mereka pasti membayangkan bahwa aksi perploncoan sama dengan aksi kekerasan. Uups…tunggu dulu. Aksi perploncoan itu juga terjadi pada anak-anak Smansa Denpasar tahun ini. Tetapi....aksi itu ada batasnya, lho.

Menurut Ni Putu Tina Merari, pelaksanaan MOS di Smansa Denpasar tahun ini hampir mirip dengan kegiatan tahun lalu. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan ada yang bersifat sosial, pengabdian ke masyarakat, ceramah pembentukan sikap kepimpinan, dan lain sebagainya. “Memang ada perplocoan tapi sedikit dan tidak keterlaluan. Kan semua demi pembentukan mental anak-anak siswa baru,” terang siswi berparas cantik, yang kini masih tercatat sebagai siswa di Smansa Denpasar.

Hal senada juga dikemukakan oleh Kadek Vivi Kusuma, teman satu sekolah Tina. Ia membenarkan adanya perplocoan dalam kegiatan MOS tahun ini, tetapi masih sebatas kewajaran. Menurutnya, menghadapi persaingan yang ketat di Smansa Denpasar dibutuhkan ketahanan mental yang tangguh. Oleh karena itu, ia mendukung adanya perploncoan. ”Tapi ingat, perploncoan yang sifatnya mendidik dan manusiawi,” ujarnya serius.

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Ketut Mitha Puspani. Ia membenarkan bahwa telah terjadi perploncoan yang dilakukan senior kepada juniornya. Hal ini dilakukan pada hari minggu saat pra MOS. Namun, ia menegaskan bahwa perploncoan itu tidak berlangsung lama. ”Ya, harus tahu batas-batasnyalah, ” ujarnya.

Menanggapi adanya balas dendam dalam MOS, Tina membantah pernyataan itu. Menurutnya, perploncoan yang dilakukan senior kepada juniornya di Smansa Denpasar tidak ada kaitannya dengan balas dendam. Ia menegaskan bahwa segala bentuk tindakan dalam MOS sudah mendapat persetujuan dari pihak OSIS dan sekolah. ”Jadi, tidak benar ada unsur balas dendam antara senior kepada junior. Semua semata-mata untuk mendidik,” ungkapnya. (Deby)

 

Negeri Favorit, Milik Siswa Berduit

  

Foto: Merdeka.com
Pada mulanya, sekolah negeri favorit identik dengan siswa yang berkualitas secara akademik. Artinya, hanya siswa yang memiliki kemampuan tinggi yang bisa bersekolah di sekolah negeri favorit. Namun belakangan, citra ini pelan-pelan mulai bergeser. Sekolah negeri favorit merupakan kumpulan siswa yang tinggi ekonominya. Itulah komentar yang diungkapkan oleh Putu Satria Prawira, salah satu siswa Smansa 1 Denpasar, yang kini duduk di bangku kelas XII. “Sekolah negeri favorit itu milik siswa berduit,”terangnya sinis.

Hal senada juga dikemukan oleh Made Putra Kusuma. Teman sekelas Satria ini mengemukakan bahwa untuk mendapatkan sekolah negeri favorit memang harus bermodal dulu. Karena kebutuhan di sekolah negeri favorit pasti berbeda dengan sekolah biasa, terutama dalam hal pengadaan fasilitas sekolah. Oleh karena itu, ia membenarkan kalau orang tua harus siap membiayai fasilitas-fasilitas itu demi kualitas pendidikan anak-anak mereka.

Berbeda dengan Putra, Kadek Toni Wirama justru punya pandangan lain. Menurutnya, sering sekolah negeri favorit terutama di Denpasar memanfaatkan kesempatan favorit itu sebagai promosi untuk memungut uang banyak. ”Bayangkan, konon ada sekolah negeri favorit di Denpasar mengadakan pungutan liar mencapai puluhan juta,” terangnya dengan nada heran.

Ditambahkan oleh Satria, walaupun pungutan itu mahal, namun antusias masyarakat menyekolahkan anaknya di sekolah negeri favorit sangat tinggi. Ia menilai bahwa tingginya antusias ini disebabkan oleh gengsi dari orang tua siswa. Di samping ingin mendapatkan kualitas pendidikan lebih baik, kebanyakan orang tua ingin agar anaknya dipandang pintar, cerdas, elit, dan berkelas. ”Faktor gengsilah yang menyebabkan orang tua berani bayar berapa pun diminta asal diterima di sekolah favorit itu,” ujarnya.

Menurut Toni, seharusnya orang tua bisa memberikan contoh yang baik pada anaknya. Mereka (orang tua siswa) tidak boleh melanggar aturan-aturan yang ditetapkan sekolah. Ia menyarankan agar orang tua tidak memaksakan anaknya diterima di sekolah kalau tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan sekolah yang bersangkutan. “Cari sekolah yang lain, dong. Yang sesuai dengan kemampuan anaknya, bukan malah tergiur mau membayar demi mendapatkan sekolah itu,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Putra menjelaskan bahwa jika model pungutan ini terus berlangsung, dikhawatirkan akan merugikan siswa yang pintar secara akademik. Putra menegaskan, lama-kelamaan jatah siswa pintar di sekolah favorit akan terus berkurang bahkan bisa lenyap. Pasalnya, ia melihat ada kecenderungnya sekolah negeri favorit sekarang lebih mengutamakan orang tua siswa yang bisa bayar. “Kasian siswa pintar tetapi ekonomi orang tuanya lemah. Ke depannya, mereka pasti kecewa dan tidak percaya lagi terhadap kualitas sekolah negeri favorit tersebut,” sambungnya dengan ekspresi sedih.

Satria menambahkan bahwa pentingnya kerjasama masyarakat dan pemerintah untuk mengawasi masalah tersebut di atas. Ia mengharapkan pemerintah dan masyarakat untuk ikut mengontrol jalannya penerimaan siswa baru. “Mulai dari penerimaan siswa baru, karena biasanya pungutan itu menjamur pada awal tahun ajaran baru,” terangnya. (Mela)

 


Foto: rri.co.id
Penerimaan siswa baru tahun ajaran 2013/ 2014 tahun ini diwarnai dengan berbagai aksi kecurangan. Salah satunya adalah beredarnya “surat sakti”. Isu beredarnya “surat sakti” ini juga terjadi di beberapa sekolah negeri favorit di Denpasar.

Menanggapi surat sakti dalam penerimaan siswa baru, Wayan Riko Wardana mengaku tidak menahu soal itu. Dirinya tidak pernah mendengar kasus itu. “Jangankan melakukan, mendengar istilah itu baru kali ini,” terang siswa berparas atletis, yang kini masih tercatat sebagai siswa Smansa Denpasar.

Berbeda dengan Riko, Made Satria Wibawa mengaku pernah mendengar istilah surat sakti. Bahkan ia berkeyakinan penerimaan siswa baru melalui surat sakti, pasti ada terutama di sekolah negeri favorit. Namun, menurutnya kasus itu akan sulit dibuktikan. “Pasti ada, cuman sulit dibuktikan,” terang siswa yang masih berstatus sebagai pelajar di Smansa Denpasar ini.

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Putu Tria Ria. Ia menilai bahwa beredarnya surat sakti karena ada oknum yang merasa punya kekuasaan. Kekuasaan itu kemudian disalahgunakan untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain. “Mungkin karena merasa berkuasa, pejabat tertentu memanfaatkannya untuk menitipkan anaknya,” ujar Ria yang juga teman sekelas Riko.

Satria punya pandangan lain. Menurutnya, maraknya surat sakti disebabkan karena adanya unsur paksaan. Ia menjelaskan bahwa ada orang tua siswa memaksa anaknya bisa sekolah di sekolah impian, padahal tidak memenuhi syarat. “Surat sakti untuk memaksakan anak pejabat bisa sekolah di sekolah negeri favorit,” paparnya.

Lebih lanjut Riko menjelaskan bahwa kasus surat sakti merupakan tindakan curang dan merugikan orang lain. Menurut Riko, semestinya pejabat tidak memberi contoh yang tidak baik kepada masyarakat. “Pejabat harus ngasi contoh yang baiklah. Jangan main surat sakti,” ujarnya serius.

Senada dengan hal ini, Ria mengusulkan bahwa jangan sampai tahun-tahun berikutnya kasus ini terjadi lagi. Ia menyarankan agar sekolah berani dengan tegas menolak anak-anak yang menggunakan surat sakti. Ditambahkan pula, agar masyarakat juga ikut mengawasi kasus ini ke depannya. (irfan, Editor: I Ketut Serawan) 

 

Lebihi Kuota, Siswa Sekolah Negeri Favorit Terpaksa Masuk Siang

 


Kasus penerimaan siswa baru melebihi kuota terjadi di sejumlah sekolah di Denpasar. Kasus ini terjadi terutama pada sekolah-sekolah negeri favorit. Misalnya, SMP Negeri 1 Denpasar yang kuotanya 192 membengkak menjadi 492 siswa, dan SMA Negeri 1 Denpasar yang semula kuotanya 200-an membengkak menjadi 500-an. Akibatnya, beberapa sekolah negeri favorit di Denpasar terpaksa memberlakukan kelas siang.


Menurut Made Roni Sianturi, membengkaknya jumlah siswa di sekolah negeri favorit merupakan bukti bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri sangat tinggi. Ia menambahkan kepercayaan ini muncul karena sekolah negeri favorit memang unggul dalam segala hal jika dibandingkan dengan sekolah biasa. ”Orang tua siswa pasti menginginkan pendidikan berkualitas. Ya, pilihannya sekolah negeri favorit,” terang siswa yang kini berstatus sebagai siswa Smansa Denpasar ini. Namun, ia mengusulkan agar sekolah negeri favorit tidak menerima berlebihan seperti tahun ini. ”Dampaknya siswa terpaksa ada yang sekolah siang, karena kelas nggak cukup,” imbuhnya.

Senada dengan hal ini, I Kadek Arya Winata mengemukakan bahwa kelengkapan fasilitas sekolah dan juga kualitas guru-gurunya juga merupakan faktor daya tarik sekolah negeri favorit. Ia berpendapat bahwa kualitas fasilitas dan guru di sekolah favorit memang lebih unggul sehinggal wajar kulitas pendidikannya lebih unggul. Faktor inilah yang mendorong masyarakat ingin berebut menyekolahkan anaknya di sekolah negeri favorit. Namun demikian, ia mengusulkan agar sekolah negeri favorit tidak seenaknya menerima jumlah siswa. ”Sekolah negeri favorit harus mempertimbangkan fasilitas yang dimilki. Kalau tidak beginilah jadinya, terpaksa ada siswa sekolah siang hari” ungkap siswa, yang masih duduk sebangku dengan Roni.

Pendapat berbeda dikemukakan oleh Komang Kaka Pradana. Siswa yang masih sekelas dengan Roni dan Arya ini mengemukakan bahwa membengkaknya siswa di sekolah negeri favorit tahun ini memang kerterlaluan. Tetapi ia tidak menyalahkan sekolah, karena orang tua juga ikut mendesak agar anaknya bisa sekolah di sekolah negeri favorit. ”Sampai ada kelas siang, itulah resikonya. Yang penting sekolah bisa menjaga kualitasnya,” paparnya.

Namun, Roni dan Arya berpendapat bahwa semestinya sekolah melihat fasilitas dan tenaga pengajar dulu sebelum memutuskan jumlah siswa yang akan di terima. Karena menurut mereka, akan berdampak terhadap kualitas pendidikan di sekolah tersebut. ”Jika terus dibiarkan akan berpengaruh terhadap kualitas sekolah itu sendiri,” imbuhnya. Ditambahkan pula, agar masyarakat dan pemerintah ikut mengawasi penerimaan siswa pada tahun-tahun mendatang. (Irfan)

 

Penerimaan Siswa Baru,

 Jalur Belakang Kian Marak

 

Foto: harianmomentum.com
Penerimaan siswa baru tahun ini kian mendapat sorotan dari masyarakat. Pasalnya, sistem penerimaan tahun ini diwarnai dengan berbagai tindak kecurangan. Salah satunya ialah penerimaan melalui jalur belakang. Bahkan tahun ini dirasakan kian marak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Putu Vivi Wardani, penerimaan siswa baru melalui jalur belakang sudah lama terjadi. Ia beryakinan bahwa setiap tahunnya pasti ada orang tua yang memilih jalur belakang untuk mendapatkan sekolah tertentu. “Hanya saja tahun ini dirasakan lebih marak,” terang siswi Smansa Denpasar yang kini duduk di kelas XII. 

Senada dengan hal ini, I Made Tio Kusuma menambahkan bahwa jalur belakang itu ibarat kentut. Bentuknya tidak bisa dilihat, tapi baunya bisa dicium oleh masyarakat. “Sulit untuk membuktikannya, tapi orang-orang sebenarnya udah tahu,” ujar Tio yang masih sekelas dengan Vivi.

Pendapat berbeda dikemukakan oleh Ni Komang Putri Lestari. Ia berpandangan bahwa eksisnya jalur belakang ini disebabkan oleh pasar. Layaknya pasar, sekolah sebagai penjual dan masyarakat sebagai pembeli. Kedua belah pihak merasa diuntungkan. Sekolah dapat untung, orang tua juga merasa diuntungkan karena mendapat sekolah yang diimpikan. “Sepanjang ada permintaan, saya yakin jalur ini tetap eksis,” ujar siswi berpenampilan nyentrik ini.

Munculnya jalur belakang dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Menurut Vivi, faktor utama penyebab munculnya jalur ini karena ada unsur pemaksaan dari orang tua. Lebih rinci ia menjelaskan bahwa beberapa siswa yang tidak memenuhi syarat, memaksa untuk sekolah di tempat tersebut. Akibatnya,  orang tua harus menempuh jalur belakang dengan cara membayar mahal.

Berbeda dengan Vivi, Lestari justru mengungkapkan bahwa maraknya jalur pintu belakang akibat ada unsur pembiaran dari pemerintah. Ia menilai bahwa pemerintah sebetulnya sudah tahu, tetapi tidak mau bertindak untuk mengantisipasi kasus ini. Bahkan konon, ada beberapa oknum pemerintah diisukan ikut-ikutan terlibat dalam kasus ini. Oleh karena itu, Lestari mengusulkan agar ada lembaga independen yang mengawasi dan menindak tegas kasus ini. “Kalau pemerintah tidak bisa menanggulangi kasus ini, sebaiknya ada lembaga indepeden yang menangani masalah ini nantinya,” usulnya.

Agar tidak merugikan banyak orang, Tio justru punya usul lain. Ia menyarankan agar sekolah membuat peraturan yang tegas tentang penerimaan siswa baru dan mempromosikan secara terbuka. Di samping itu, ia juga mengusulkan agar masyarakat dan pemerintah bekerjasama mengawasi dengan ketat sistem penerimaan siswa pada tahun mendatang. “Masyarakat dan pemerintah harus lebih ketat mengawasi penerimaan siswa baru pada tahun mendatang, “ ungkapnya. (Tria)

Senin, 03 Mei 2021

 

Tips Menghindari Diri dari Kasus Bullying


Foto: info.1inminds5.org

Terkadang tindak bullying dianggap sebagai suatu yang normal terjadi terutama di masa kanak-kanak. Sehingga hal tersebut cenderung dibiarkan berlalu tanpa penanganan apapun. Padahal tindak bullying sekecil apapun yang terjadi nantinya akan berpengaruh pada pembentukan karakter anak-anak yang cenderung negatif ketika dewasa kelak. Sehingga seseorang yang dibully masa kecilnya cenderung akan mengalami kembali tindakan bullying dari lingkungan sekitarnya.

Apapun yang terjadi, tindak bullying tidak dapat dibiarkan dan baik dicegah jika diketahui lebih awal. Sehingga, sikap melindungi diri dari tindakan tersebut penting dilakukan. Berikut ini beberapa cara untuk melindungi diri dari tindak bullying.

1). Dekat dengan orang yang berpengaruh

Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam Journal of Adolesence, US National Library of Medicine National Institute of Health menunjukkan bahwa hubungan yang 'dekat' dengan orang yang berpengaruh, misalnya atasan di kantor  atau orang yang 'dituakan' dapat menghindarkan diri dari tindakan bullying. Selain itu, penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa menumbuhkan jiwa yang tangguh dapat mengatasi tindak bullying secara individu. Selain itu, merespon bullying dan membangun percaya diri juga penting dilakukan.

2). Cari dukungan sosial di lingkungan sekitar 

Mereka yang membully biasanya mencoba untuk mengisolasi target dari kelompok sosial yang lebih besar. Agar tidak merasa kesepian, cobalah mencari kegiatan yang membuat Anda dekat dengan banyak orang seperti misalnya bergabung dengan tim olahraga, klub atau mengikuti kegiatan sosial yang Anda gemari untuk menambah lingkup pertemanan.

3). Buat rencana antisipasi bullying

Jika Anda sudah pernah menghadapi bullying atau takut menghadapinya, ada baiknya Anda justru merencanakan bagaimana sikap Anda saat hal tersebut terjadi. Cari strategi yang tepat untuk menghadapi bullying yang mungkin terjadi pada Anda.

4). Temui ahli

Para remaja yang kerap menjadi korban bullying cenderung mengalami depresi, pikiran untuk bunuh diri dan melakukan tindakan lain yang membahayakan diri sendiri. Tak hanya itu mereka juga memiliki masalah kesehatan lain seperti sakit kepala, perut, pinggang dan sebagainya. Masalah seperti ini tentu bukan untuk dihadapi sendiri. Carilah tenaga profesional yang mampu membantu Anda untuk mengatasi efek dari bullying tersebut.

5). Hindari lingkungan negatif

Beberapa remaja mengalami bullying lebih sering ketimbang remaja lain misalnya mereka yang mengidap obesitas, memiliki penyakit kronis dan homoseksual. Tidak hanya tindak bullying secara verbal atau fisik, tetapi mental karena harus melawan stigma negatif yang dilekatkan pada mereka. Stigma ini akan membuat korban bullying tidak percaya diri. Sebaiknya, cari lingkup pertemanan yang dapat membuat Anda merasa labih baik.

6). Fokus pada hal positif pada diri Anda

Hindari kegiatan negatif seperti obat-obat terlarang, minuman keras dan rokok sebagai pelampiasan emosi akibat bullying. Ikutilah kegiatan-kegiatan positif yang dapat membuat Anda merasa lebih baik seperti menjadi relawan, bersepeda, berolahraga dan sebagainya. (Dayu Tantri, diambil dari berbagai sumber)