Jumat, 31 Agustus 2018


Oleh

I Ketut Serawan


Pendidikan dasar agama hindu diajarkan secara resmi sejak anak duduk di bangku SD Kelas I. Fase di mana anak masih tertatih-tatih di dunia bacalistung (baca, tulis, menghitung). Fase ini tentu menjadi tantangan berat bagi pelaku pendidikan terutama guru, karena mereka dituntut dapat membangun dasar keilmuan agama hindu yang kuat sesuai dengan usia si anak. Sebuah tuntutan ideal di tengah publik dihantui rasa pesimis atas temuan fakta-fakta pembelajaran yang skeptis di lapangan.

Skeptis Publik
            Munculnya rasa pesimis publik didasarkan oleh beberapa fakta pembelajaran yang cukup mengkhawatirkan. Fakta-fakta itu, antara lain: materi, konten, dan bahasa pembelajaran agama hindu kelas I masih terlalu berat (dewasa).
Coba perhatikan penggalan kutipan materi tri kaya parisudha (kelas I semester I) berikut. “Pikiran adalah hal yang harus diprioritaskan, karena pada dasarnya segala sesuatu bermula dari pikiran…. “ (materi manacika, halaman 7, buku Pendamping Materi Dharma Sesana Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk Kelas I Semester I, Penyusun IKAPI No.014/BAI/09). Materi yang lain misalnya, “Sesuai dengan dengan siklus ‘rwabhineda’ perbuatan manusia dapat ditinjau dari 2 sisi yang berbeda, yaitu antara lain perbuatan yang baik (subha karma) dan perbuatan yang tidak baik/ buruk (asubha karma)…” (materi subha dan asubha karma, halaman 13, buku Pendamping Materi Dharma Sesana Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk Kelas I Semester I, Penyusun IKAPI No.014/BAI/09).  
            Kedewasaan materi itu terlihat karena uraian materinya sangat padat (seperti rangkuman materi). Ditambah lagi, menggunakan bahasa (kalimat) yang dewasa, tak terjangkau oleh rasionalitas anak-anak.
Fakta skeptis lainnya adalah guru dengan latar belakang, cara pandang, dan strategi pembelajarannya. Kebanyakan yang mengajarkan mata pelajaran agama hindu di kelas dasar adalah wali kelas yang tidak berlatar belakang pendidikan agama hindu. Mereka mengajar apa adanya berdasarkan materi yang ada di buku paket/ LKS.
Di beberapa SD, ada guru spesialisasi atau berlatar pendidikan agama hindu tetapi akta mengajarnya level menengah ke atas. Efeknya, guru terbawa dan memaksakan polarisasi pembelajaran remaja kepada anak-anak. Anak-anak dijejali pola-pola teoritis, pengetahuan abstrak, dan kemandirian dalam belajar. Padahal, anak-anak membutuhkan metode pembelajaran yang konkret, sederhana, dan totalitas pembimbingan.
Faktor lainnya ialah pengalaman guru ketika menjadi siswa. Bisa jadi guru (sekarang) menggunakan standar pembelajaran gurunya terdahulu. Artinya, ketika menjadi siswa, mereka diperlakukan seperti sekarang. Mereka beranggapan bahwa cara guru agama hindu sebelumnya masih relevan dengan usia ketika mereka menjadi guru sekarang.
Kemungkinan lain adalah belum ditemukannya standar model pembelajaran agama hindu untuk SD kelas dasar. Pasalnya, sampai sekarang belum ada khusus Pendidikan Guru Agama Hindu Sekolah Dasar (PGAHSD). Yang ada adalah pendidikan guru agama hindu menengah ke atas produk dari STAH, IHDN, dan lain sebagainya. Produk kampus ini biasanya siap diterjunkan untuk siswa SMP ke atas.
Namun, mereka belum siap diterjunkan ke SD. Mungkin pemerintah beranggapan bahwa lulusan PGSD dapat mengakomodir persoalan ini. Pemerintah berkeyakinan bahwa produk PGSD dapat mengajarkan dasar-dasar agama hindu dengan optimal. Padahal, kenyataannya (di Bali), mapel hindu banyak diajarkan oleh guru yang berlatar belakang S-1 Pendidikan Agama Hindu dan S-1 Pendidikan Bahasa Bali. Hal ini membuktikan bahwa lulusan PGSD kurang percaya diri dalam mengampu mapel agama hindu.
Di samping latar belakang dan cara pandang, rasa skeptis publik juga diperkuat oleh strategi guru dalam pembelajaran. Publik menemukan polarisasi pembelajaran agama hindu yang masih bersifat tradisional yaitu teoritis dan teks book. Anak-anak diberikan teori-teori berdasarkan buku-buku yang ada. Karena guru seolah-olah percaya bahwa tafsir penyusun buku dianggap sudah sempurna (sesuai dengan yang diniatkan kurikulum).
Itulah sebabnya, kebanyakan guru agama hindu (di Denpasar misalnya) mengajarkan materi-materi kelas dasar tanpa mengambil peran mediasi. Mereka menyerahkan anak-anak secara mandiri membaca materi dengan tolok ukur pemahaman soal-soal yang ada di dalam buku. Mental memanjakan ini membuat para guru nyaman mengajar dengan hanya menggunakan buku LKS.
Buku LKS dengan ringkasan materi yang padat-merayap dan berisi latihan soal-soal telah memposisikan guru bak seorang raja. Guru cukup memerintahkan siswa mengerjakan soal-soal LKS (entah di sekolah/ rumah). Setelah itu, diperiksa, diberi nilai, dan diulang untuk pembelajaran berikutnya.
Begitulah eksistensi buku LKS. Kehadirannya kerapkali menjadi candu bagi guru. Guru menjadi malas mengembangkan kreativitas pembelajaran. Perencanaan pembelajaran, psikologi anak didik, dan metode pembelajaran menjadi terabaikan.
Pembelajaran agama hindu di SD seperti kehilangan kebermaknaannya. Pun kehilangan dasar-dasar keilmuannya. Para siswa dikalahkan oleh otoritas guru. Otoritas yang sering memabukan guru, lalu berimbas pada memiskinkan pembelajaran. Sehingga jangan heran, jika dunia pembelajaran anak SD kelas dasar tidak luput dari serangan PR-PR yang sering kurang bermakna dan tak manusiawi (jumlahnya melebihi kemampuan anak). Akibatnya, anak-anak menjadi jenuh. Hasil pembelajaran pun ikut-ikutan jenuh. Jadi, wajar publik merasa skeptis terhadap bangunan dasar ilmu agama hindu yang diperoleh di sekolah dasar.

Ekspektasi Publik
Untuk membangun kepercayaan publik, fakta-fakta pembelajaran skeptis harus diminimalisir. Upaya mendasar yang perlu dilakukan adalah mengkaji bobot materi, kepadatan materi, dan aspek kebahasaan materi. Materi dan konten pembahasan harus disederhanakan, sehingga mudah dicerna oleh kemampuan si anak. Penyederhanaan ini harus didukung oleh diksi-diksi (bahasa) yang mudah dipahami oleh anak-anak.
Pembahasan tentang tri kaya parisudha (misalnya) akan lebih mudah rasanya kalau dimulai dengan ilustrasi yang bersifat kasus. Penulis buku dan guru bisa memulainya dengan cerita, drama, dan fakta-fakta kejadian yang berkaitan dengan aspek berpikir, berkata, dan berbuat. Misalnya, sajikan cerita yang mengandung kontras unsur kebaikan (sabar, santun, berpikir positif) dan keburukan (mengejek, sedikit kasar, berpikir negatif, dsb) yang dekat dengan dunia anak-anak.
Libatkan anak dalam memutuskan pandangan-pandangan (penilaian) mereka terhadap kebaikan dan keburukan dalam cerita. Kemudian, hubungkan kasus dalam cerita dengan sudut pandang tri kaya parisudha. Jadi, bukan membahas materi-materi tri kaya parisudha secara padat, mendalam, dan definitif.
Kesederhanaan pola penyajian materi dan ulasan akan menjadi mendalam serta bermakna, apabila dibarengi dengan penggunaan kalimat (bahasa) yang mudah dimengerti oleh si anak. Hindari kosakata yang biasa dikonsumsi oleh orang dewasa. Hindari pula menulis/ menempel kutipan-kutipan dari sumber aslinya, yang apa adanya. Interpretasi lagi kutipan-kutipan itu dalam bahasa yang mudah dipahami  oleh si anak.
Aspek pemahaman psikologi pembelajaran juga penting dipahami oleh penyusun kurikulum, penyusun buku, dan guru. Pembelajaran yang bersifat teoritis dan definitif sesungguhnya melenceng dari esensi psikologi pendidikan anak. Karena hakikat pembelajaran anak SD bersifat sederhana dan konkret.
Menurut ahli psikolog, perkembangan kognitif anak ditandai dengan beberapa gejala, yaitu (1) senang mendengarkan cerita meskipun sudah dapat membaca, (2) cara berpikirnya berdasarkan hal yang konkret, dan (3) belum mengerti hal yang abstrak. Gejala ini memberikan sinyal bahwa guru agama hindu SD harus sebisa mungkin dapat menghadirkan pembelajaran yang konkret kepada anak, baik dengan cerita, drama, gambar, demonstrasi dan lain sebagainya.
Penggunaan metode pembelajaran berbasis konkret (kreatif) selaras dengan karakteristik anak SD yaitu (1) senang bergerak, (2) senang bermain, (3) senang melakukan sesuatu secara langsung, dan (4) senang bekerja dalam kelompok. Pemahaman karakteristik anak ini akan mengerem kesadaran guru agar masuk ke dunia anak. Dunia pembelajaran yang dominan bernuansa bermain, menyenangkan, ramah dan nyaman.
Untuk mewujudkan  pembelajaran konkret dan kreatif memang membutuhkan guru pekerja keras dan mandiri. Guru sebaiknya memiliki interpretasi mandiri terhadap kurikulum, psikologi pendidikan, psikologi anak, dan buku paket/ LKS. Kemampuan interpretasi ini berguna untuk membantu guru dalam membuat tafsir-tafsir dan kreasi-kreasi pembelajaran yang menarik. Sehingga, mood dan ketertarikan anak-anak dalam belajar tetap terjaga.
Sayangnya, jumlah guru yang kreatif seperti ini cukup minim di SD. Padahal, signifikan dalam membangun dasar-dasar ilmu agama hindu pada anak. Jika dasar-dasar ilmu ini bagus, publik pantas berharap akan tumbuh anak-anak dengan berkepribadian  hindu yang mantap, kuat, dan bernilai universal.
Ekspektasi di atas harus didukung oleh semua kalangan. Kita membutuhkan sinergi dari berbagai pihak untuk dapat menghasilkan guru agama hindu yang ideal, sesuai dengan harapan publik. Pemerintah, departemen agama, PHDI, dan masyarakat sebaiknya bersinergi positif untuk mendukung kebijakan memproduksi guru agama hindu SD yang diinginkan publik sekarang. Penyuluhan, pelatihan, lomba-lomba antar guru agama hindu mungkin dapat terus ditingkatkan frekuensinya. Gagasan membentuk PGAHSD (Pendidikan Guru Agama Hindu Sekolah Dasar) juga pantas dipertimbangkan untuk membentuk standar/ pakem pembelajaran yang cocok untuk anak SD. Sehingga, ke depan rasa skeptis publik pelan tapi pasti dapat diminimalisir. (Penulis, guru swasta di Denpasar)

0 komentar:

Posting Komentar